DARI KOLONIALISME HINGGA RUANG DISPLAY

: Meninjau Museum Dari Kajian Poskolonial

Authors

  • Asyhadi Mufsi Sadzali Universitas Jambi

DOI:

https://doi.org/10.22437/titian.v1i1.3968

Abstract

Perkembangan arkeologi di Indonesia dimulai pada awal abad ke-18 atas munculnya  ketertarikan sekelompok masyarakat Eropa terhadap benda dan bangunan kuno yang ada di Indonesia. Dari kolonialisme kuno berubah jadi penjajahan ekonomi dan idiologi. Perubahan bentuk kapitalis kuno dengan kapitalis gaya baru yang intinya sama-sama menghisap dan selalu ada bangsa yang menjajah dan yang dijajah. Dari kolonialisme bahkan berlanjut hingga ke ruang display sebuah museum, diamana segala hal yang ditampilkan tidak terlepas dari aroma kolonialisme. Dimana politik adalah muatan utama yang disisipkan secara kasat mata. Bahkan bayang-bayang kolonialisme masih melekat dalam sistim birokrasi museum yang dengan sadar atau tidak hal ituterus berlangsung hingga kini. Seperti ada kecendrungan dan keyakinan dalam kerangka pikir masyarakat bekas jajahan, bahwa apa yang pernah ditawarkan dan dilakukan kolonial di masa lampau harus dipertahankan karena dianggap lebih baik dan moderen.

The development of archeology in Indonesia began at the beginning of the 18th century for the emergence of interest in a group of European society against objects and ancient buildings in Indonesia. From ancient colonialism turned into economic colonization and ideology. The transformation of the ancient capitalist form with the new-style capitalists essentially both sucks and there is always a colonizing and colonized nation. From colonialism even continues up to the display space of a museum, where everything that is displayed can not be separated from the scent of colonialism. Where politics is the main content inserted visibly. Even the shadow of colonialism is still inherent in the museum bureaucratic system that consciously or not it continues to the present day. As there is a tendency and belief in the minds of former colonies, that what ever the colonial past offered and practiced must be defended because it was considered better and more modern.

Downloads

Download data is not yet available.

Downloads

Published

2017-09-30 — Updated on 2017-09-30

Versions

How to Cite

Sadzali, A. M. (2017). DARI KOLONIALISME HINGGA RUANG DISPLAY: : Meninjau Museum Dari Kajian Poskolonial. Titian: Jurnal Ilmu Humaniora, 1(1), 33 - 48. https://doi.org/10.22437/titian.v1i1.3968