https://online-journal.unja.ac.id/titian/issue/feed Titian: Jurnal Ilmu Humaniora 2019-12-11T11:05:26+07:00 Dr. Supian, S.Ag., M.Ag. jurnaltitian.fib@unja.ac.id Open Journal Systems <p>Titian: Jurnal Ilmu Humaniora (<strong><a href="http://issn.lipi.go.id/issn.cgi?daftar&amp;1518585294&amp;726&amp;&amp;">P-ISSN</a> </strong>and&nbsp;<strong><a href="http://issn.lipi.go.id/issn.cgi?daftar&amp;1495428997&amp;3226&amp;&amp;">E-ISSN</a> </strong>) is an academic scientific journal in humanities (cultural) field study which published by Faculty of humanities, Jambi University. The publication of this journal is intended to publish various research articles, literature studies, field studies, conceptual ideas, the study application in humanities perspective theory. This journal can be written in Indonesian, English, and Arabic. This journal prioritizes interdisciplinary approaches that combine linguistics, literature (local, Indonesian, English, Arabic), History, Archeology, Art, Sociology, Anthropology, Ethnography and Religion. Titian's journal is published periodically twice a year in June and December.</p> https://online-journal.unja.ac.id/titian/article/view/8175 Identifikasi Nilai Pedagogis Tarian Lulo untuk Integrasi Bangsa (Study Ethnography Masyarakat di Sulawesi Tenggara) 2019-12-09T14:36:19+07:00 Nasir dhion_zir@yahoo.com Rahmawati M rahmawati@gmail.com <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi nilai pedagogis tarian <em>Lulo</em> untuk Integrasi Bangsa. Penelitian dilatar-belakangi oleh fakta bahwa masyarakat Indonesia yang dikenal sebagai masyarakat yang multikultur. Pluralitas masyarakat membawa dampak positif, dan juga dampak negatif yang berpotensi pada perpecahan dan konflik. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah nilai yang bisa merekatkan keragaman tersebut; nilai yang telah menjadi bagian dari tradisi atau budaya dari masyarakat atau komunitas tertentu. Dengan penggunakan pendekatan ethnography, peneliti melibatkan beberapa pihak sebagai sumber informasi, seperti: tokoh masyarakat, ahli kurkulum, administrator sekolah; kepala sekolah dan guru-guru (partisipan <em>FGD</em>). Selain itu, dokumentasi (foto-foto) dari observasi langsung juga ditampilkan untuk memberikan visual dan untuk mengkonfirmasi data-data dari wawancara. Berdasarkan penelitian, ditemukan jika tarian <em>Lulo</em> merupakan sebuah kesenian masyarakat Tolaki yang melibatkan struktur gerak, perasaan, dan keterampilan. Peneliti menyimpulkan jika tarian <em>lulo</em> memenuhi prinsip-prinsip kurikulum menjadi sebuah input atau materi pembelajaran, karena tarian <em>lulo</em> berisi unsur kegiatan pikir, olah hati, olah rasa, karsa, serta olah raga dan mengandung nilai-nilai positif seperti: persatuan, sikap menghargai dan tunduk/patuh pada norma atau aturan.</p> 2019-12-05T12:39:59+07:00 Copyright (c) 2019 Titian: Jurnal Ilmu Humaniora https://online-journal.unja.ac.id/titian/article/view/8176 Sejarah Nahdlatul Ulama (NU) Provinsi Jambi dan Perannya Terhadap Tradisi dan Budaya Melayu 2019-12-09T14:36:21+07:00 Supian supian_ramli@yahoo.co.id <p>Tulisan ini mendalami bagaimana sejarah berdiri dan berkembangnya Nahdlatul Ulama (NU) di Provinsi Jambi dan bagaimana peran NU dalam perkembangan dan eksistensi Tradisi dan Budaya Melayu di Jambi. Seringkali dipahami dan dinyatakan bahwa NU didirikan oleh kiyai dan ulama tradisionalis, sebagai garda depan dalam menjaga tradisi dan budaya Islam, sehingga menjadi sangat relevan ketika meneliti bagaimana peran NU dalam eksistensi dan pengembangan budaya melayu, khususnya budaya melayu Jambi. Keberadaan adat, tradisi dan budaya melayu Jambi yang ditopang oleh jargon “adat bersendi syara’, syara’ bersendi kitabullah” merupakan adat, tradisi dan budaya yang harus berbasiskan agama (Islam). Sehingga penting untuk dilihat bagaimana peran agama (Islam) khususnya NU, dalam pengembangan dan termasuk mempertahankan adat, tradisi dan budaya melayu ditengah arus pemahaman yang cenderung memutus mata rantai adat, tradisi dan budaya tersebut. Secara kultural, mayoritas masyarakat melayu adalah NU, maka itu berarti juga bahwa adat dan budaya melayu tersebut juga berasal dari kultural NU, sehingga perlu ditelisik nilai-nilai religius dan islami yang ada dalam adat dan budaya melayu tersebut.</p> 2019-12-05T13:07:56+07:00 Copyright (c) 2019 Titian: Jurnal Ilmu Humaniora https://online-journal.unja.ac.id/titian/article/view/8177 Musik Tarawak Tarawoi dalam Ritual Ngagah Harimau di Masyarakat Pulau Tengah Kabupaten Kerinci 2019-12-09T14:36:21+07:00 Masvil Tomi masviltomi@gmail.com Hadiyanto hadiyanto@gmail.com Amor Seta Gilang Pratama amor@gmail.com Muhammad Alfath alfath@gmail.com Putri Anisa Utami utami@gmail.com <p>Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk penyajian <em>Musik Tarawak Tarawoi Dalam Ritual Ngagah Harimau di Masyarakat Pulau Tengah Kabupaten Kerinci Provinsi Jambi</em>. Penelitian ini dilakukan karena <em>Musik Tarawak Tarawoi Dalam Ritual Ngagah Harimau</em> tersebut memiliki fungsi tersendiri.<em> Tarawak Tarawoi</em> merupakan musik yang digunakan dan dipercayakan bisa untuk memangil Roh nenek moyang dan penjaga hutan di desa Pulau Tenggah Kecamatan Keliling Danau Kerinci, upacara ritual itu mengambarkan bagaimana hubungan antara manusia dan harimau pendekatan penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Metode pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Objek penelitian ini adalah <em>Musik Tarawak Tarawoi Dalam Ritual Ngagah Harimau</em> yang dikaji dari fungsi dan bentuk penyajiannya. maka penelitian ini di fokuskan pada rumusan masalah yang akan membahas: Penyajian <em>Musik Tarawak Tarawoi Dalam Ritual Ngagah Harimau di Masyarakat Pulau Tengah Kabupaten Kerinci Provinsi Jambi</em>.</p> 2019-12-05T13:26:54+07:00 Copyright (c) 2019 Titian: Jurnal Ilmu Humaniora https://online-journal.unja.ac.id/titian/article/view/8178 Islam dan Bina Damai: Ikhtiar Membumikan Doktrin Islam yang Rahmatan Lil ‘Alamin 2019-12-09T14:36:22+07:00 Ahmad Asroni ahmad.asroni@uii.ac.id <p>Pasca tumbangnya rezim Orde Baru, terorisme dan radikalisme Islam di Indonesia tumbuh subur secara signifikan. Tindakan terorisme dan radikalisme berdampak buruk terhadap Islam. Publik internasional terutama publik Barat melabeli Islam sebagai teroris, agama pedang, dan predikat negatif lainnya. Artikel ini mendiskusikan fakta-fakta bahwa Islam merupakan agama damai. Hal ini dapat dilihat melalui berbagai dimensi yaitu: semantik, teologi/doktrin, sejarah, dan mistik (tasawuf). Selain memaparkan topic-topik tersebut, artikel ini lebih lanjut mendeskripsikan bagaimana mendakwahkan doktrin Islam yang damai tersebut kepada masyarakat Muslim Indonesia melalui keluarga, institusi pendidikan, ulama, dan lembaga/organisasi-organisasi Islam.</p> 2019-12-05T13:53:00+07:00 Copyright (c) 2019 Titian: Jurnal Ilmu Humaniora https://online-journal.unja.ac.id/titian/article/view/8179 Tipologi Gerakan Mahasiswa melalui Organisasi Mahasiswa Islam di Purwokerto 2019-12-09T14:36:22+07:00 muhamad riza chamadi riza.chamadi@gmail.com Rifka Ahda Sumantri sumantri@gmail.com <p>Gerakan mahasiswa melalui organisasi mahasiswa Islam adalah ekspresi idealisme mahasiswa tentang keagamaan dan nasionalisme dalam bernegara Indonesia. Organisasi mahasiswa Islam di Purwokerto, seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Gerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Himpunan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dan Unit Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Keempat organisasi itu masih ada di Purwokerto. Artikel ini adalah hasil dari studi deskriptif kualitatif yang bertujuan menggambarkan varian jenis gerakan mahasiswa Islam melalui empat organisasi tersebut. Metode pengumpulan data dengan wawancara, observasi dan dokumentasi. Metode analisisdata menggunakan proses reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil Penelitian telah menemukan gambaran tipologi gerakan mahasiswa Islam seperti gerakan politik, dakwah keagamaan, akademik dan karir kewirausahaan.&nbsp;</p> 2019-12-05T14:12:20+07:00 Copyright (c) 2019 Titian: Jurnal Ilmu Humaniora https://online-journal.unja.ac.id/titian/article/view/8180 Pergerakan Perempuan di Minangkabau: Kiprah Rohana Kudus dalam Nasionalisme Tahun 1912-1972 2019-12-09T14:36:22+07:00 Ema Pratama Agustiningsih emapratamaagustiningsih1@gmail.com <p>Tujuan artikel ini adalah mengetahui Sejarah pergerakan&nbsp; Rohana Kudus di Minangkabau seta Kiprah Rohana Kudus dalam Nasionalisme tahun 1912-1972. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data sesuai dengan metode sejarah. Metode sejarah merupakan proses menguji dan menganalisi peninggalan masa lampau dan juga dapat merekontruksi sebanyak-banyaknya peristiwa masa lampau. Metode penelitian sejarah kritis terdiri dari empat tahapan pokok yaitu heuristik, kritik sumber, interpretasi fakta,&nbsp; dan terakhir adalah historiografi. Berdasarkan penjelasan artikel ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa <em>pertama</em>, Pergerakan Rohana Kudus di Minangkabau dimulai sejak timbulnya rasa kepedulian terhadap perempuan yang masih terikat adat dimana mereka hanya bisa bergerak di ranah kasur ,sumur dan dapur. Berkat kedekatanya dengan orang Belanda &nbsp;dan anak seorang pegawai Belanda. &nbsp;Rohana Kudus bisa membaca, menulis dan membuat kerajinan. Ia juga piawai dalam mengurus rumah tangganya. Kemudian yang <em>kedua</em>, Kiprah Rohana Kudus dalam Nasionlaisme tahun 1912 -1972 yaitu mendirikan sekolah bagi penduduk pribumi, membuat tulisan tentang perlawanan perempuan melalui Koran Sunting Melayu, membuat perempuan mandiri dalam ekonomi dengan mendirikan Kerajinan Amai Satia ( KAS) , ikut dalam perlawanan dengan perang Gerilya dan membantu dapur umum, serta&nbsp; ia adalah&nbsp; Jurnalistik dan wartawati perempuan pertama Indonesia</p> 2019-12-09T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2019 Titian: Jurnal Ilmu Humaniora https://online-journal.unja.ac.id/titian/article/view/8221 Menjadi Minangkabau di Dunia Melayu Kerinci: Identifikasi Akulturasi Budaya Minangkabau di Kerinci ditinjau dari Tinggalan Arkeologi dan Sejarah 2019-12-11T11:05:26+07:00 Asyhadi Mufsi Sadzali asyhadi_mufsi@unja.ac.id Yusdi Anra yusdianra@gmail.com Benny Agusti Putra benni@gmail.com <p>Alam Kerinci salah satu wilayah pedalaman Sumatera dan dikelilingi bukit barisan yang membentang di bagian barat dan timur. Selain itu. wilayah ini berada ditengah-tengah dua kebudayaan besar yang sangat berpengaruh yaitu Melayu Jambi dan Alam Minangkabau. Suku kerinci sebagaimana juga halnya dengan suku-suku lain di Sumatera adalah penutur bahasa Austronesia. Berdasarkan bahasa dan adat-istiadat suku Kerinci dapat diikategorikan dekat dengan Minangkabau, akan tetapi dari segi administratif sejak masa keemerdekaan, Kerinci telah menjadi bagian dari Jambi. Kedua kondisi tersebut pada ahirnya mempengaruhi kebudayaan kerinci, baik dari segi artefaktual, maupun dari segi etnografinya. &nbsp;Pada artefak yang tersebar &nbsp;di Kerinci banyak kemiripan &nbsp;bentuk dengan artefaktt ual yang ada di Minangkabau, demikian juuga secara etnografi semisal sistim sosial yang juga matrilineal, atau garis eturunan dari Ibu. Sebagai bagian dari wilayah Jambi, identitas melayu Jambi juga melekat dalam identitas kebudayaan masyarakat kerinci. Fenomena ini pada akhirnya menjadi rumusan masalah yang membawa penulis untuk meneliti nya, lebih lanjut. Untuk menjawab ini maka digunakan metodologi arkeologi, dimulai proses ientifikasi kemudian melakukan analisis bentuk-bentuk akulturasi dua kebudayaan yang terdapat pada artefak dan tradisi masyarakat Kerinci. Hipotesa sementara, proses akulturasi yang terjadi bersifat perebutan dominasi, sehingga bentuk adopsi budaya yang paling mencolok dianggap sebagai patron budaya yang paling mempengaruhi, yang dalam hal ini adalah minangkaabu.</p> 2019-12-09T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2019 Titian: Jurnal Ilmu Humaniora https://online-journal.unja.ac.id/titian/article/view/8222 Menelisik Kearifan Lokal Masyarakat Melayu Jambi Berbasis Cerita Rakyat dalam Membangun Peradaban 2019-12-09T14:36:22+07:00 Warni Warni warnii@unja.ac.id Rengki Afria rengki_afria@unja.ac.id <p>Sastra lama merupakan perwujudan dari budaya-budaya lokal masyarakat. Sastra lama hadir lewat tradisi yang secara turun-temurun terus dihadiahi dari generasi ke generasi. Di dalamnya, terkandung nilai-nilai kearifan lokal yang jika ditelisik akan membuahkan suatu ide-ide baru. Kearifan lokal merupakan suatu identitas lokal yang eksistensinya dapat mempengaruhi pola hidup masyarakat setempat. Suatu bentuk kreativitas dapat dihadirkan dengan memunculkan kembali sumber daya lokal yang terdapat pada nilai-nilai kearifan lokal. Dengan demikian, akan terbangun suatu bentuk kreativitas yang berlandaskan kearifan lokal. Ini merupakan upaya dalam melestarikan kearifan lokal masyarakat serta memanfaatkannya untuk menciptakan kreativitas baru tanpa menghilangkan nilai-nilai kearifan lokal. Oleh sebab itu, perlu digali kembali nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Melayu Jambi pada masa lampau agar kreativitas masyarakat terus berkembang dengan tidak menghilangkan identitas lokal. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengumpulkan kembali cerita rakyat yang tersebar di seluruh wilayah Provinsi Jambi. Dengan begitu, nilai-nilai kearifan lokal dapat digali dan diambil manfaatnya untuk membangun peradaban.</p> 2019-12-09T14:14:15+07:00 Copyright (c) 2019 Titian: Jurnal Ilmu Humaniora https://online-journal.unja.ac.id/titian/article/view/8078 Quo Vadis Sastra Lisan Etnis: Profanisasi Fungsi Paseng dalam Komunitas Bugis Perantauan di Kota Jambi 2019-12-09T14:36:22+07:00 Mohd. Arifullah Ashaf simulakra.arif@gmail.com <p><em>Paseng</em> sebagai tutur lisan masyarakat Bugis dengan fungsinya sebagai gugus nilai ternyata tidak lagi lestari, <em>paseng</em> di dihadapkan pada tantangan modernitas yang menjadi gugus nilai baru, sehingga <em>paseng</em> sebagai tradisi lisan mengalami hambatan dalam proses transmisinya kepada generasi ke dua. Hal ini juga terkait dengan proses profanisasi atau desakralisasi terhadap fungsi paseng yang menjadi persoalan yang coba penulis ketengahkan dalam artikel ini, dengan menggunakan teori dampak modernitasnya Anthony Gramsci dan transformasi budayanya Riene Eisler. Adapun metode yang penulis gunakan dalam analisa karya ini adalah metode penelitian kualitatif dalam pendekatan folklor yang dinaungan ethnography, sehingga penelitian ini dapat memberikan gambaran holistik yang dapat merinci kejadian. Hasilnya penulis menemukan bahwa telah terjadi profanisasi terhadap fungsi paseng dalam komunitas masyarakat Bugis perantauan Kota Jambi yang disebabkan oleh beberapa kondisi, khususnya sebagai dampak modernitas yang telah menggerus tradisi lokal dalam kehidupan generasi muda Bugis Kota Jambi, yang memberikan sumbangsih pada kurangnya penggunaan bahasa induk sebagai bahasa keseharian, yang akhirnya mengakibatkan tidak terwariskannya tradisi pada generasi kedua. Kondisi inilah yang kemudian membutuhkan revitalisasi terhadap tradisi paseng dalam kehidupan masyarakat Bugis perantauan di Kota Jambi.</p> 2019-12-09T14:25:36+07:00 Copyright (c) 2019 Titian: Jurnal Ilmu Humaniora