Abstract

Asma termasuk  urutan keenam dalam sepuluh penyakit terbesar penyebab kesakitan dan kematian di Indonesia. Serangan asma mengakibatkan seseorang tidak dapat beraktivitas, melakukan kegiatan harian sehingga mengakibatkan produktivitas menurun serta menurunnya kualitas hidup. Asma dapat dikendalikan dengan pengelolaan yang dilakukan secara lengkap, tidak hanya dengan pemberian terapi farmakologis tetapi juga nonfarmakologis. Bentuk terapi non-farmakologis yang telah terbukti dapat menurunkan gejala asma dan mengurangi frekuensi kekambuhan adalah senam asma dan teknik pernapasan buteyko. Kegiatan pengabdian ini bermitra dengan Puskesmas Olak Kemang dan Puskemas Simpang IV Sipin. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader dalam melakukan senam asma dan teknik pernapasan buteyko. Kader yang merupakan salah satu ujung tombak pelayanan kesehatan dapat mentransferkan ilmu yang telah didapat kepada penderita asma untuk menurunkan gejala asma, frekuensi kekambuhan, dan meningkatkan kualitas hidup penderita asma. Kegiatan pengabdian ini bermitra dengan Puskesmas Simpang IV Sipin dan Puskesmas Olak Kemang. Kegiatan dimulai dengan sosialisasi kegiatan, dilanjukan dengan pemantapan kader, pelatihan senam asma dan teknik pernapasan buteyko. Berdasarkan kegiatan tersebut, dapat disimpulkan setelah dilakukan pelatihan senam asma dan teknik pernapasan buteyko mayoritas peserta telah mengetahuai defenisi, tujuan, manfaat, indikasi, dan kontraindikasi serta prosedur pelaksanaan senam asma dan teknik pernapasan buteyko. Selain itu, mayoritas peserta juga merasa antusias dan tertarik untuk melakukan senam asma dan teknik pernapasan buteyko.