Dinamika Sosial Budaya dalam Pernikahan Transnasional (Studi Kasus Terhadap Perempuan Minangkabau dengan Laki-Laki Korea Selatan)
DOI:
https://doi.org/10.22437/titian.v10i1.59194Keywords:
transnasional, hibridisasi, budaya, pernikahanAbstract
Penelitian ini mengkaji dinamika sosial budaya dalam pernikahan transnasional antara perempuan Minangkabau dan Laki-laki Korea Selatan. Fokus penelitian diarahkan pada tiga hal : (1) tantangan yang dialami oleh pasangan sebelum menikah (2) dinamika kehidupan setelah menikah, khususnya dalam aspek adaptasi budaya, relasi dengan keluarga besar, peran gender, dan bahasa (3) dampak pernikahan terhadap keturunan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teori hibridisasi budaya, melalui wawancara mendalam terhadap pasangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tantangan sebelum menikah meliputi kesulitan memperoleh restu keluarga, perbedaan agama, perbedaan ritual pra nikah, kerumitan administrasi hukum, serta tekanan sosial psikologis. Setelah menikah, pasangan menghadapi perbedaan dalam adaptasi budaya sehari-hari, kesulitan membangun hubungan baik dengan keluarga besar, perbedaan sistem kekerabatan matrilineal dan patrilineal, serta hambatan bahasa. Konflik karena perbedaan ini dapat dikelola melalui kompromi, pembagian peran yang lebih setara, serta penggunaan bahasa Inggris sebagai medium komunikasi utama. Dalam kehidupan anak, pernikahan transnasional membawa pengaruh signifikan. Anak memperoleh pendidikan dengan pola hybrid yang menggabungkan nilai Korea dan Minangkabau. Anak menjadi multilingual dengan menguasai bahasa Indonesia, Korea, Inggris, dan Palembang, serta anak memiliki identitas budaya multilapis yang bersifat hybrid. Dari sisi kewarganegaraan, anak berada dalam posisi unik karena memiliki kewarganegaraan ganda bahkan tiga (Amerika Serikat, Indonesia, Korea Selatan). Kesimpulannya, pernikahan transnasional perempuan Minangkabau dengan laki-laki Korea Selatan menghasilkan proses hibridisasi budaya yang kompleks, baik dalam hubungan pasangan maupun dalam pembentukan identitas anak. Temuan ini memperlihatkan bagaimana kompromi, negosiasi, dan strategi adaptasi menjadi kunci keberlangsungan pernikahan transnasional.
ABSTRACT
This study examines the socio-cultural dynamics in a transnational marriage between a Minangkabau woman and a South Korean man. The focus of the research is directed toward three aspects: (1) challenges experienced by the couple prior to marriage; (2) post-marital life dynamics, particularly in terms of cultural adaptation, relationships with extended families, gender roles, and language; and (3) the impact of marriage on offspring. This research employs a qualitative method and applies the theory of cultural hybridization through in-depth interviews with the couple. The findings reveal that pre-marital challenges include difficulties in obtaining family approval, religious differences, differences in pre-marital rituals, legal and administrative complexities, as well as socio-psychological pressures. After marriage, the couple encounters differences in daily cultural adaptation, challenges in establishing harmonious relationships with extended families, disparities between matrilineal and patrilineal kinship systems, and language barriers. Conflicts arising from these differences can be managed through compromise, more egalitarian role-sharing, and the use of English as the primary medium of communication. In the life of the child, transnational marriage brings significant influence. The child receives education through a hybrid pattern that integrates Korean and Minangkabau values. The child becomes multilingual, mastering Indonesian, Korean, English, and Palembang, and develops a multilayered, hybrid cultural identity. In terms of citizenship, the child occupies a unique position by holding dual or even triple citizenship (the United States, Indonesia, and South Korea). In conclusion, a transnational marriage between a Minangkabau woman and a South Korean man produces a complex process of cultural hybridization, both in the marital relationship and in the formation of the child’s identity. These findings demonstrate that compromise, negotiation, and adaptive strategies are key factors in sustaining transnational marriage.
References
Ahmad, A. (2021). Perkawinan Menurut Hukum Adat Minangkabau.
Asmaniar. (2018). Perkawinan Adat Minangkabau (Vol. 7, Number 2). https://id.wikipedia.org/wiki/Orang_Minangkabau#cite_note-Rice93-44,
Barker, C. (2004). Cultural Studies. Kreasi Wacana.
Constable, N. (2010). Cross-border marriages: Gender and mobility in transnational Asia. University of Pennsylvania Press.
de Hart, B. (2024). Juggling Paperwork Across Borders: Theorizing Transnational Legal Space. Nordic Journal of Migration Research, 14. https://doi.org/10.33134/njmr.784
FINI, N. (2018). Perkawinan Campuran (Amalgamasi) etnis Jawa dan Minangkabau (studi kasus jorong sungai duo nagari luak kapau alam pau duo kabupaten solok selatan). Universitas Andalas.
Gusman, Y., Faisol, W., & Hapsari, S. A. (2024). Transnational Marriage and Integration: Challenges and Adaptation Strategies of Indonesian Muslim Foreign Bride in Taiwan. Dauliyah: Journal of Islam and International Affairs, 9(1), 1–21. https://doi.org/10.21111/dauliyah.v9i1.11141
Hasanuddin. (2017). Wacana Etnik Dalam Multikulturalisme Indonesia : Dinamika Adaptif Diaspora Minangkabau di Bali. CV. Rumahkayu Pustaka Utama.
Jee, Y.-J., & Seol, D.-H. (2008). Process of Cross-border Marriage and Marital Satisfaction: Cases of Korean Men and Foreign Wives. International Journal of Human Ecology, 9(2), 13–27.
Koenjtaraningrat. (1987). Sejarah Teori Antropologi I. UI Press.
Koentjaraningrat. (1993). Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan. Gramedia Pustaka Utama.
Lee, E., Kim, S., & Lee, J. K. (2015). Precarious motherhood: Lives of Southeast Asian marriage migrant women in Korea. Asian Journal of Women’s Studies, 21(4), 409–430.
Loh, B., Yeoh, B. S. A., Lam, T., & Goh, E. C. L. (2025). Citizenship pathways of children with cross-national parents: strategic and affective contemplations of citizenship choice. Ethnic and Racial Studies, 48(14), 2881–2899. https://doi.org/10.1080/01419870.2024.2441908
Lubis, L. A., Kurniawan, A. J., & Pohan, S. (2020). Komunikasi Antarbudaya dalam Perkawinan Beda Warga Negara. Jurnal Ilmu Komunikasi , 18(1).
Mahnizar Sahrul, V. (2022). Asimilasi Perkawinan Campuran antara Etnis Tionghoa dan Etnis Minangkabau di Kota Padang (Studi Kasus: Tiga Keluarga Perkawinan Campuran). Universitas Andalas.
Manalu, R. S. (2021). Analisis Adaptasi Perempuan Batak Toba dalam Perkawinan dengan Warga Negara Asing. Universitas Sumatera Utara.
Marpaung, G. (2017). Akibat Perkawinan Campuran (Laki-Laki Minangkabau Dengan Perempuan Batak Toba) Terhadap Marga Dan Hak Anak Di Kelurahan Hutatoruan X Kompleks Mesjid Kecamatan Tarutung Tapanuli Utara. UNIMED.
Najamudin, A. A., & others. (2019). Jejak Orang Mandar Di Kelurahan Kampung Mandar Banyuwangi (Kajian Strukturasi dan Hibriditas Budaya). UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Navis, A. A. (1984). Alam Terkembang Jadi Guru, Adat dan Kebudayaan Minangkabau. Grafiti Pers.
Park, M. Y. (2022). Experiencing Everyday Otherness: A Study of Southeast Asian Marriage-Migrants in South Korea. Sustainable Multilingualism, 20(1), 46–68. https://doi.org/10.2478/sm-2022-0003
Pratamawaty, B. B. (2017). Potensi konflik perkawinan lintas budaya perempuan indonesia dan laki-laki bule. Kafaah: Journal of Gender Studies, 7(1), 1–14.
Rizka Imanda, D., Mujab Masykur, A., & Soedarto Tembalang Semarang, J. S. (2016). Menjalani Pernikahan Antar Ras (Studi Kualitatif Fenomenologis pada Wanita Pelaku Interracial Marriage) (Vol. 5, Number 2).
Ruslaini, R., Sugiharti, T., Hermanu, D. H., Wulandari, W., & Harahap, S. (2021). Studi Fenomenologi Pola Asuh Anak oleh Wanita Indonesia dalam Perkawinan Campur di Eropa dan Kanada. PERSPEKTIF, 10(2), 656–663. https://doi.org/10.31289/perspektif.v10i2.5003
Sa’adah, F. A., Widiastuti, N., Sos, S., & others. (2022). Culture Shock Pada Pernikahan Beda Budaya.
Samovar, L. A., Porter, R. E., Stefani, L. A., & Sidabalok, I. M. (2010). Komunikasi lintas budaya. Salemba Humanika.
Sugiyono. (2020). Metode Penelitian Kualitatif. Alfabeta.
Suryani, A. (2020). Penerimaan Keluarga Terhadap Pernikahan Campuran. Jurnal Psikologi Sosial, 18(2), 56–63.
Usman, M., Salmyah, C., & others. (2017). Memoar: siti Aminah Madjid Usman-Hiroko Osada: kisah hidup dan perjuangan seorang putri bangsawan Jepang untuk kemerdekaan Indonesia.
Wahyuni, S., Fitria, D., Sabir, A., & Amin, T. (2023). Eksistensi Mamak Kanduang Dalam Perkawinan Kemenakan Di Padang Pariaman. Armada : Jurnal Penelitian Multidisiplin, 1(6), 406–412. https://doi.org/10.55681/armada.v1i6.548
Wibowo. (2013). Budaya Organisasi. Rajawali Pers.
Zulueta, J. O. (2024). Negotiating Gender and Kinship within Multicultural Families in Non-Highly Urbanised Areas of South Korea. Genealogy, 8(2). https://doi.org/10.3390/genealogy8020076
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Jung Ji Sung, Syafril Syafril, Nopriyasman Nopriyasman (Author)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.






















