Posisi Daerah-Daerah Hinteland Dalam Aktivitas Perdagangan di Pelabuhan Ternate Abad XV-XIX
DOI:
https://doi.org/10.22437/jejak.v6i1.49265Keywords:
Port, Hinterland, Ternate, Jailolo, BacanAbstract
Pengetahuan dan keterampilan berlayar merupakan modal berharga masayarakat Kepulauan Maluku dari zaman kuno, klasik hingga zaman kolonial, menjadikan Kepulauan ini sangat ramai dalam perputarab perdagangan dunia saat itu. Pendekatan sejarah maritim yang disandingkan dengan metode sejarah dilakukan dalam penelian ini untuk mengungkapkan fenomena yang terjadi berkaitan dengan posisi darah-daerah hinterland dalam aktvitas perdagangan di Pelabuhan Ternate Abad XV-XIX. Pelabuhan dari Kesultanan Tidore, Jailolo dan Bacan merupakan Pelabuhan yang memgang peranan penting sebagai daerah pemasok utama komoditi dagang bagi Kesultanan Ternate dalam perdagangan rempah-rempah di Maluku.
References
Adhuri, Dedi S, (2009), “Posisi Pengetahuan Tradisional dan Persoalan Teritori dalam Pembangunan : Reflekesi Kontemporer Pelayaran dan Perniagaan Nusantara Abad Ke-16 dan 17 Karya Adrian B. Lapian” dalam Ivan Aulia Ahsan dan M. Fauzi, (Ed), Kembara Bahari: Esei Kehormatan 80 Tahun Adrian B. Lapian, Komunitas Bambu, Jakarta
Amal M. Adnan (2001), Maluku Utara : Perjalanan Sejarah 1250 – 1800 (jilid 1), Universitas Khairun,Ternate
Amal M. Adnan, (2010) Kepulauan Rempah-rempah : Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250-1950, Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), Hal. 36
Anthony Reid, (1999), Dari Ekspansi Hingga Krisis II, JaringanPerdagangan Global Asia Tenggara 1450-1680, terjemahan R.Z.Leirissa, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta
Ari Wahyono, dkk, (2000), Hak Ulayat Laut di Kawasan Timur Indonesia, Jakarta: MediaPersindo.
Fauzan, R. &. (2017). Gadjah Mada Journal of Psychology. Gadjah Mada Journal of Psychology, 3(1), 131–140.
Hans Hägerdal, Diplomacy in theVillages : VOC Agreements and Disagreements with Stateless Societies in Southeastern Malukuinthe Seventeenth and Eighteenth, Linnaeus University, Växjö, Sweden, Centuries, Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde 180 (2024) 319–350
Hasanuddin. (2018). Commeracial Shipping, Pirate, and Merchant Village in Gorontalo.
Walasuji, 9(2), 262-264
Hasim, R. (2019). Dari Monopoli Hingga Pelabuhan Bebas: Aktivitas Perdagangan Di Karesidenan Ternate 1854-1930. SASDAYA: Gadjah Mada Journal of Humanities, 3(2),
151. https://doi.org/10.22146/sasdayajournal.50351
J Keuning, (1973) Sejarah Ambon sampai pada akhir abad XVII, Bharata, Jakarta
Jalil, L. A. (2017). Nisan kuno di Jailolo: bukti perkembangan Islam abad ke-18 di Maluku Utara. Berkala Arkeologi, 37(2), 195-207. https://doi.org/10.30883/jba.v37i2.214
Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka. 1988.
Lapian A. B., (1997),“Dunia Maritim Asia Tenggara”. Dalam Taufik Abdullah dan Edi Sedyawati (penyunting). Sejarah Indonesia : Penilaian Kembali karya Utama Sejarawan Asing. Depok : Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya Lembaga Penelitian Universitas Indonesia.
Lapian A. B., (2017), Pelayaran dan Perniagaan Nusantara Abad ke-16 dan 17, Komunitas Bambu, Jakarta
Marc Bloch, (1988), Plidooi Voor de Geschiedenis of Geschiedenis Als Ambacht, Nederlandsche Vertaling Nijimegafen.
Pattikayhatu, (1998), Sejarah Pemerintahan Adat di Ternate dan Tidore Maluku Utara,
Lembaga Kebudayaan Propinsi Maluku Utara, Ambon
Pessy, N. C., & Yulifar, L. (2025). Budaya Bahari Maluku dan Hubungannya dalam Perdagangan Rempah-Rempah Masa VOC, 1605-1799. Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah Dan Pendidikan, 9(1), 100–114. https://doi.org/10.29408/fhs.v9i1.28296
Pires, T., Cortesao, A. (2018). SUMA ORIENTAL karya Tome Pires : Perjalanan dari Laut Merah ke Cina (Ed. 4). Yogyakarta: Penerbit Ombak.
Rahman, F. (2019). “Negeri Rempah-Rempah” Dari Masa Bersemi Hingga Gugurnya Kejayaan Rempah-Rempah. Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah Dan Budaya, 11(3),
347. https://doi.org/10.30959/patanjala.v11i3.527
Raman, L., & Safi, J. (2022). Kesultanan Bacan Dalam Persaingan Politik Dan Perdagangan Di Maluku Utara, 1602-1940. Sejarah Dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, Dan Pengajarannya, 16(2), 276. https://doi.org/10.17977/um020v16i22022p276-285
Ranjit Singh D. S. (1990), “Brunai nda the Hinterland of Sabah : Comercial an Economic Relations with Special Referece of the secon half of nineteenth Century” dalam J. Kathirithamby Wells dan JhonnVillers. (Ed). The Southeast Asian Port and Polity : Rise end Demise. Singapore : Singapore University Press. Lihat juga Agus Supriyono. “Hubungan antara Pelabuhan dengan daerah-daerah Hinterland : Studi kasus di Pelabuhan Semarang pada Masa Kolonial Belanda abad XX” dalam Edi Sedyawati dan Susanto Zudi. 2001.
Rusdiyanto, R. (2018). Kesultanan Ternate Dan Tidore. Aqlam: Journal of Islam and Plurality, 3(1). https://doi.org/10.30984/ajip.v3i1.631
Sartono Kartodirdjo, (1992), Pengantar Sejarah Indonesia Baru : 1500-1900 Dari Emporium Sampai Imperium, Jilid I, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Sinaga, R., Simanjuntak, J. V., Tondang, O. P., & Larasati, S. (2024). Masa Pemerintahan VOC di Nusantara: Awal Kedatangan Hingga Penyebab Bubarnya VOC. AR-RUMMAN: Journal of Education and Learning Evaluation, 1(2), 389–397. https://doi.org/10.57235/arrumman.v1i2.4065
Sulistiyono, S. T. (2016). Paradigma Maritim dalam Membangun Indonesia: Belajar dari Sejarah. Lembaran Sejarah, Vol. 12 No(2), 81–108.
Syafiera, A. (2016). Perdagangan di nusantara abad ke-16. Avatara: Jurnal Pendidikan Sejarah, 4(3). 721-735
Thalib, U. (2017). Orang Banda Dalam Perspektif Sejarah Maritim. PARADIGMA: Jurnal Ilmu Pendidikan Dan Humaniora, 3(1), 28-48.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Boni Marian, Aksilas Dasfordate, Gesia Mira Urlialy

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.







