JAMBI MEDICAL JOURNAL "Jurnal Kedokteran dan Kesehatan" https://online-journal.unja.ac.id/kedokteran <p>Jambi Medical Jurnal published by LP23M Faculty of Medicine and Health Science Universitas Jambi. Published every 2 times a year, in May and November. eISSN : 2580-6874,&nbsp; pISSN : 2339-269X, indexed : <a href="https://scholar.google.co.id/citations?user=iFB5rwEAAAAJ&amp;hl=en">Google Scholar,&nbsp;</a><a title="SINTA: Science and Technology Index" href="http://sinta2.ristekdikti.go.id/journals/detail?id=3530">SINTA&nbsp;<strong>: Science and Technology Index, </strong></a><a title="IPI Portal Garuda" href="http://id.portalgaruda.org/?ref=browse&amp;mod=viewjournal&amp;journal=884"><strong>IPI Portal Garuda, </strong></a><strong>DOI CROSSREF</strong></p> en-US auroradr@unja.ac.id (dr. Wahyu Indah Dewi Aurora, M.K.M) fkik@unja.ac.id (FKIK UNJA) Fri, 01 Nov 2019 00:00:00 +0700 OJS 3.2.1.1 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 BIOMARKER PENGGANTI HOMA-IR UNTUK MENDETEKSI RESISTENSI INSULIN https://online-journal.unja.ac.id/kedokteran/article/view/8011 <p><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><strong><em>Background</em></strong><em> Standard insulin resistance (IR) marker now available was HOMA-IR which is expensive and not available widely as routine test so surrogated marker was needed. Adiposity excess, glucose and lipid metabolism marker were the three metabolic risk strongly correlated with IR. Epidemiology study found triglyceride glucose index (TyG), visceral adiposity index (VAI) dan lipid accumulation product (LAP) could predict HOMA-IR. Adding the 3<sup>rd</sup> metabolic risk such adiposity excess to TyG index gained discrimination value to predict IR. To the best of our knowledge this study never been held before in Javanese, Indonesia. Aims of this study was to investigated ability of the three index as single or combination to predict IR in Indonesia. </em></p> <p><strong><em>Methods</em></strong><em> study design was cross sectional with 184 participants. IR describe as HOMA-IR more than 75 percentiles for each gender. Spearman correlation and receiver operating characteristic (ROC) was construct to recognized ability of the metabolic index to predict IR. Standard mathematical equation was used to calculated HOMA-IR, TyG, VAI and LAP. Addition of excess of adiposity marker to TyG, add glucose to VAI and LAP as multiply function was used to investigate the triple metabolic risk simultaneously. </em></p> <p><strong><em>Result</em></strong><em> Combine index have higher correlation and AUC than single index. Value of LAP have higher correlation and AUC than TyG and VAI. Combination of TyG index have higher correlation than other combination indeks. The acceptable discrimination index signed by AUC &gt; 0.7 to predict IR reach by TyG*BMI, TyG*WC, TyG* WtHR, TyG*VF and LAP* glucose. The highest AUC reach by TyG*WtHR. <strong>Conclusion</strong> we suggest TyG with combine of excess adiposity and LAP*glucose mention above could be used as surrogated marker to recognize IR in Javanese, Indonesia. This combination index acceptable but not as good as HOMA-IR to predict IR.</em></p> <p><strong><em>Keyword: Surrogated marker, Insulin resistance, TyG Index, VAI, LAP index, HOMA-IR.</em></strong></p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p><strong>Latar belakang</strong> Standar biomarker resistensi insulin adalah HOMA-IR. Pemeriksaan ini relatif mahal dan tidak tersedia sebagai pemeriksaan rutin di Indonesia, sehingga biomarker pengganti diperlukan. Kelebihan lemak tubuh, kadar glukosa dan profil lemak darah merupakan tiga risiko metabolik berkorelasi kuat dengan RI. Studi epidemiologi menunjukkan nilai triglyceride glucose indeks (TyG), <em>visceral adiposity indeks</em> (VAI) dan <em>lipid accumulation product</em> (LAP) erat kaitannya dengan <em>homeostasis model assessment for insulin resistance </em>(HOMA-IR) Penambahan risiko metabolik ketiga (TyG*antropometri) dapat meningkatkan nilai diskriminasi untuk mendeteksi RI. Studi tersebut masih terbatas pada populasi Asia khususnya Indonesia.</p> <p><strong>Tujuan</strong> penelitian ini untuk mengamati korelasi dan derajat diskriminasi TyG, VAI dan LAP sebagai indeks tunggal maupun kombinasi untuk memprediksi RI pada etnis Jawa di Indonesia.</p> <p><strong>Metode </strong>penelitian potong lintang diikuti oleh 184 subjek. RI didefinisikan sebagai nilai HOMA-IR lebih dari persentil 75 berdasarkan jenis kelamin. Uji korelasi Spearman dan nilai <em>area under curve</em> (AUC) dari kurva <em>receiver operating characteristic</em> (ROC) digunakan untuk menilai kemampuan diskriminasi prediksi RI.</p> <p><strong>Hasil </strong>penelitian ini menunjukkan kombinasi indeks memiliki nilai korelasi dan luas AUC yang lebih tinggi daripada indeks tunggal. Indeks LAP memiliki nilai korelasi dan AUC yang lebih tinggi dibandingkan TyG dan VAI. Indeks kombinasi TyG dan antropometri memiliki nilai korelasi dan AUC yang lebih tinggi dibandingkan indeks kombinasi lainnya. Diskriminasi indeks yang dapat diterima untuk memprediksi resistensi insulin dicapai oleh TyG*BMI, TyG*WC, TyG*WtHR, TyG*VF dan LAP*glukosa. Diskriminasi indeks tertinggi dicapai oleh TyG*WtHR. <strong>Kesimpulan </strong>Kombinasi TyG dengan BMI, WC, WtHR, VF dan LAP*glukosa merupakan kandidat biomarker untuk mendeteksi RI pada etnis Jawa di Indonesia. Kombinasi indeks ini menjanjikan sebagai biomarker pengganti meskipun tidak sebaik HOMA-IR untuk memprediksi RI.</p> <p><strong><em>Kata Kunci: Biomarker pengganti, resistensi insulin, Indeks TyG, VAI, Indeks LAP, HOMA-IR.</em></strong></p> Copyright (c) 2019 JAMBI MEDICAL JOURNAL "Jurnal Kedokteran dan Kesehatan" https://online-journal.unja.ac.id/kedokteran/article/view/8011 Fri, 01 Oct 2021 00:00:00 +0700 RENCANA STRATEGI BISNIS RSD KOLONEL ABUNDJANI BANGKO TAHUN 2019 – 2023 https://online-journal.unja.ac.id/kedokteran/article/view/8016 <p><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><strong><em>Background </em></strong><em>: The hospital’s strategic business plan has a program target that can overcome future problems related to service development. This study aims to provide a comprehensive review of the hospital strategis business planning process so that alternative strategies can be obtained for the next 5 year and become an alternative reference in process of formulating business strategic plan for government hospital </em></p> <p><strong><em>Methods</em></strong><em>: This research is operational research, qualitative research with in-depth interviews and document research using hospital performance reports.</em></p> <p><strong><em>Results</em></strong><em>: The results of the analysis of external and intenral environmental factors, alternative strategies that are suitable for current hospital conditions are service product development and market penetration. In order to realize this strategy there are several things that must be of particular concern, namely the limited resources that are available which include the availability of human resources and financial support and there is no available integrated hospital information system.</em></p> <p><strong><em>Conclusion</em></strong><em>: The alternative strategy set out in the hospital business strategic plan based on the current mapping of external and internal environmental factors is service product development anda market penetration. To realize this business strategy requires a strong and related stakeholders, especially in terms of human resources and budget avaibility.</em></p> <p><strong><em>Keywords</em></strong><em>:</em> <strong><em>Hospitals, strategic plans, business strategy.</em></strong></p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p><strong>Latar Belakang</strong>. Rencana strategis bisnis rumah sakit memiliki target program yang dapat mengatasi permasalahan – permasalahan dimasa depan yang berkaitan dengan pengembangan pelayanan. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan tinjauan komperhensif tentang proses penyusunan rencana strategis bisnis rumah sakit sehingga diperoleh strategi alternatif untuk 5 tahun kedepannya dan menjadi rujukan alternatif dalam proses penyusunan rencana strategis bisnis rumah sakit pemerintah.</p> <p><strong>Metode</strong> : penelitian ini adalah penelitian operasional, penelitian kualitatif dengan wawancara mendalam dan penelitian dokumen mengunakan laporan kinerja rumah sakit.</p> <p><strong>Hasil </strong>: Hasil analisa faktor lingkungan eksternal dan internal, strategi alternatif yang cocok dengan kondisi rumah sakit sekarang adalah pengembangan produk layanan dan penetrasi pasar. Guna mewujudkan strategi ini ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian khusus yaitu keterbatasan sumber daya yang dimiliki yang meliputi ketersediaan sumber daya manusia dan dukungan keuangan&nbsp; serta belum tersedia sistem informasi rumah sakit yang terintegrasi.</p> <p><strong>Kesimpulan</strong> : Strategi alternatif yang ditetapkan dalam rencana strategis bisnis rumah sakit berdasarkan pemetaan faktor- faktor lingkungan eksternal dan internal saat ini adalah pengembangan produk pelayanan dan penetrasi pasar. Guna mewujudkan strategis bisnis &nbsp;ini membutuhkan komitmen yang kuat dari seluruh sumber daya manusia yang ada di rumah sakit dan stakeholder yang terkait, terutama dalam hal ketersediaan SDM dan ketersediaan anggaran.</p> <p><strong>Kata Kunci</strong> : <strong><em>Rumah sakit, rencana strategis, strategi bisnis.</em></strong></p> Copyright (c) 2019 JAMBI MEDICAL JOURNAL "Jurnal Kedokteran dan Kesehatan" https://online-journal.unja.ac.id/kedokteran/article/view/8016 Fri, 01 Oct 2021 00:00:00 +0700 HUBUNGAN KONSUMSI JENGKOL DENGAN KEJADIAN GAGAL GINJAL KRONIS DI BAGIAN PENYAKIT DALAM RSUD RADEN MATTAHER JAMBI TAHUN 2017 https://online-journal.unja.ac.id/kedokteran/article/view/8014 <p><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><strong><em>Background:</em></strong><em> Djenkol (Pithecolobium jiringa) is one of the food consumed by the population of Indonesia. Djenkol seeds can be consumed&nbsp; raw, roasted, or fried. However djenkol contents djenkolic acid which nephrotoxic and can crystallize so it would blockage the urinary tract and then damaging the kidney. Chronic renal failure is chronic renal function impairment, progressive and irreversible. Chronic renal failure is a global health problem with an increased incidence, prevalence and morbidity rates. The purpose of this study was to determine the relationship of between consumption of djenkol with the incidence of chronic renal failure in the Department of Internal Medicine Raden Mattaher Hospital in Jambi from January to February 2017.</em></p> <p><strong><em>Methods:</em></strong><em> The observational analytic study with case control design held in 72 subject with 36 CRF patient in the case group and 36 non CRF patient in the control group. Purposive sampling was used to collect subject. This research was conducted at the Department of Internal Medicine Raden Mattaher Hospital in Jambi from January to February 2017. Data were obtained from interviews, medical records and observation sheet.</em></p> <p><strong><em>Results:</em></strong><em> In the case group dominated with male patient (20 respondents, 55,6%) and respondent with age range 36-45 years (11 respondent, 30,6%). Most of the respondents consume djenkol: 50 people (69.4%). In the case group who consume djenkol are 30 subjects (60.0%), while in the control group 20 subject consume djenkol. Chi-Square test showed that history consumption of djenkol associated with the incidence of CRF (OR = 4.000; p = 0.011; Cl95% = 1.337 to 11.965). The number of consume djenkol associated with the incidence of CRF (OR = 3.314; p = 0.023; Cl95% = 1.154 to 9.520). The frequency of consume djenkol associated with the incidence of CRF (OR = 3.750; p = 0.008; Cl95% = 1.379 to 10.200). The duration of consume djenkol associated with the incidence of CRF (OR = 3.143; p = 0.018; Cl95% = 1.199 to 8.241).</em></p> <p><strong><em>Conclusion:</em></strong><em> These results show that there is relationship between consumption of djenkol with the incidence of chronic kidney failure in the Department of Internal Medicine Raden Mattaher Hospital in Jambi&nbsp; from January to February 2017.</em></p> <p><strong><em>Keywords: chronic renal failure (CRF), consumption of djenkol, duration, frequency, number.</em></strong></p> <p><strong><em>&nbsp;</em></strong></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p><strong>Latar Belakang : </strong>Jengkol (<em>Pithecolobium jiringa) </em>merupakan salah satu makanan yang banyak dikonsumsi oleh penduduk Indonesia. Biji jengkol dapat dikonsumsi dengan mentah, dibakar atau digoreng. Namun jengkol mengandung asam jengkolat yang bersifat nefrotoksik dan dapat mengkristal yang akan menyumbat saluran kemih dan merusak ginjal. Gagal ginjal kronik merupakan gangguan fungsi ginjal yang menahun bersifat progresif dan ireversibel. Gagal ginjal kronik merupakan masalah kesehatan dunia&nbsp; dengan peningkatan insidensi, prevalensi serta tingkat morbiditas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara konsumsi jengkol dengan kejadian gagal ginjal kronik di Bagian Penyakit Dalam RSUD Raden Mattaher Jambi pada juli-agustus Tahun 2017.</p> <p>&nbsp;<strong>Metode : </strong>Penelitian analitik observasional dengan desain <em>case control </em>dengan 72 sampel, diantaranya 36 pasien GGK sebagai kelompok kasus dan 36 pasien non GGK sebagai kelompok kontrol. Penelitian ini dilakukan di Bagian Penyakit Dalam RSUD Raden Mattaher Jambi periode Januari-Februari tahun 2017. Data diperoleh dari wawancara langsung, rekam medis dan lembar observasi.</p> <p><strong>Hasil : </strong>Pada kelompok kasus didominasi oleh pasien pria yaitu 20 orang (55,6%) dan responden dengan rentang usia 36-45 tahun (30,6%). Sebagian besar responden mengkonsumsi jengkol yaitu 50 orang (69,4%). Kelompok kasus yang mengkonsumsi jengkol ada 30 orang (60,0%), sedangkan kelompok kontrol yang mengkonsumsi jengkol ada 20 orang (40,0%). Pada uji statistic <em>Chi-Square </em>diperoleh riwayat konsumsi jengkol berhubungan dengan kejadian GGK (OR=4,000; p=0,011; Cl95%= 1,337-11,965). Jumlah konsumsi jengkol berhubungan dengan kejadian GGK (OR=3,314; p=0,023; Cl95%= 1,154-9,520). Frekuensi konsumsi jengkol berhubungan dengan kejadian GGK (OR=3,750; p=0,008; Cl95%= 1,379-10,200). Lama konsumsi jengkol berhubungan dengan kejadian GGK (OR=3,143; p=0,018; Cl95%= 1,199-8,241).</p> <p><strong>Kesimpulan: </strong>Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara konsumsi jengkol dengan kejadian gagal ginjal kronik di Bagian Penyakit Dalam RSUD Raden Mattaher Jambi pada juli-agustus tahun 2017</p> <p><strong><em>Kata kunci: </em></strong><strong><em>gagal ginjal kronik (GGK), konsumsi jengkol, lama konsumsi frekuensi, jumlah.</em></strong></p> <p>&nbsp;</p> Copyright (c) 2019 JAMBI MEDICAL JOURNAL "Jurnal Kedokteran dan Kesehatan" https://online-journal.unja.ac.id/kedokteran/article/view/8014 Fri, 01 Oct 2021 00:00:00 +0700 DIAGNOSIS DAN PENATALAKSANAAN HYPEROSMOLAR HYPERGLYCEMIC STATE (HHS) https://online-journal.unja.ac.id/kedokteran/article/view/8017 <p><strong><em>ABSTRAC</em></strong><strong><em>T</em></strong></p> <p><strong><em>Introduction:</em></strong> <em>The Hyperosmolar Hyperglycemic State (HHS) is rare case and the most serious acute hyperglycemic emergency in patients with type 2 diabetes, are characterized by severe hyperglycemia, hyperosmolality, and dehydration in the absence of ketoacidosis.</em> <em>G</em><em>uidelines on the management of hyperglycaemic hyperosmolar state (HHS) in</em> <em>adults are uncommon and often there is little to differentiate</em></p> <p><em>them from the management of ketoacidosis diabetic, but HHS is different</em> <em>and treatment requires a different approach</em><em>. Immediately treatment is necessary to reinstate hemodynamic stability, as mortality rates for HHS are exceptionally high and can have multiple complications</em></p> <p><strong><em>Keywords: Diabetes Mellitus, Hyperosmolar Hyperglycemic State, Hyperglycemia</em></strong></p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p><strong>Latar Belakang: </strong>Hyperosmolar Hyperglycemic State (HHS) merupakan kasus yang jarang dan komplikasi emergensi akut dari pasien diabetes melitus tipe 2, dengan karakteristik hiperglikemi, hiperosmolar dan dehidrasi atau tidak adanya ketoasidosis. Pedoman manajemen hiperglikemia hiperosmolar (HHS) pada orang dewasa tidak umum dan berbeda dengan manajemen ketoasidosis diabetik. Tatalaksana segera penting dilakukan untuk menstabilkan hemodinamik, mortalitas dari HHS tinggi dan dapat menyebabkan banyak komplikasi.</p> <p><strong>Kata Kunci :<em> Diabetes Melitus, Hyperglycemic Hyperosmolar State, Hiperglikemi</em></strong></p> Copyright (c) 2019 JAMBI MEDICAL JOURNAL "Jurnal Kedokteran dan Kesehatan" https://online-journal.unja.ac.id/kedokteran/article/view/8017 Fri, 01 Oct 2021 00:00:00 +0700 PERAN VARIASI GEN FTO PADA OBESITAS https://online-journal.unja.ac.id/kedokteran/article/view/8018 <p><strong><em>A</em></strong><strong><em>BSTRACT</em></strong></p> <p><em>Genetic factors contribute to the incidence of obesity. Genetic variations in genes involved in appetite regulation, energy expenditure, fat cell differentiation and lipid metabolism play a role in obesity. Population genetic studies have identified that FTO gene variations in the first intron have a strong association with an increase in Body Mass Index (BMI). FTO gene variations are also associated with an increase in body fat composition, metabolite parameters, as well as metabolic abnormalities related to obesity such as type 2 diabetes mellitus (DM). FTO gene variations involve other genes that play a role in the process of regulating food intake and energy expenditure, which underlies the increase in body fat.&nbsp;</em></p> <p><strong><em>Keywords: genetic variation, fat mass and obesity associated, FTO, first intron, obesity, body mass index, BMI</em></strong></p> <p><strong><em>&nbsp;</em></strong></p> <p><strong>A</strong><strong>BSTRAK</strong></p> <p>Faktor genetik memberikan kontribusi terhadap kejadian obesitas. Adanya variasi genetik pada gen yang terlibat dalam pengaturan nafsu makan, pengeluaran energi, diferensiasi sel lemak dan metabolisme lipid berperan dalam terjadinya obesitas. Studi genetik populasi mengidentifikasi bahwa variasi gen <em>Fat Mass and Obesity-associated</em> (FTO) pada intron pertama memiliki hubungan yang kuat dengan peningkatan Indeks Massa Tubuh (IMT). Variasi gen FTO juga berhubungan dengan peningkatan komposisi lemak tubuh dan parameter metabolit, serta kelainan metabolik terkait obesitas seperti Diabetes Mellitus (DM) tipe 2. Adanya interaksi antara variasi gen FTO dengan gen target lain menjelaskan mekanisme terjadinya fenotip obesitas. Variasi gen FTO melibatkan gen lain yang berperan dalam proses pengaturan asupan makan dan pengeluaran energi sehingga mendasari terjadinya peningkatan lemak tubuh.</p> <p><strong><em>Kata kunci: variasi genetik, fat mass and obesity associated, FTO, intron pertama, obesitas, indeks massa tubuh, IMT</em></strong></p> Copyright (c) 2019 JAMBI MEDICAL JOURNAL "Jurnal Kedokteran dan Kesehatan" https://online-journal.unja.ac.id/kedokteran/article/view/8018 Fri, 01 Oct 2021 00:00:00 +0700 PENGARUH DIET KETOGENIK TERHADAP PROLIFERASI DAN KETAHANAN SEL PADA JARINGAN OTAK https://online-journal.unja.ac.id/kedokteran/article/view/8019 <p><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><strong><em>Background :</em></strong><em> The main energy substrate of the neuron system is glucose, but there are also alternative substrates, namely the ketone body in the form of b-hydroxybutyrate. Most ketone bodies used by the brain are supplied by liver, but they can also be synthesized in astrocytes, which are the only cell type in the brain that can oxidize fatty acids. </em></p> <p><em>The ketogenic diet is a diet that uses a lot of fat as an energy source and reduces carbohydrate and protein consumption when the body does not get enough glucose from carbohydrates, the body usually uses alternative energy sourced from the ketone body, namely acetoacetate and b-hydroxybutyrate. The ketone body comes from the breakdown of fatty acid metabolism in the liver.</em></p> <p><em>The ketogenic diet that is carried out for a long time will cause a reaction to the body, including the brain. On prolonged hunger, 75% of the fuel needed by the brain is obtained from a ketone body. The brain can carry out its functions through energy derived from glucose which is transported by blood. All factors that affect blood flow to the brain can have an impact on the proliferation and resistance of internal cells in the brain, including the decrease in glucose in the blood caused by the ketogenic diet.</em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> <strong>ketogenic, diet, brain, proliferation, cell resistance</strong></em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p><strong>Latar Belakang:</strong> Substrat energi utama dari sistem neuron adalah glukosa, tetapi ada juga substrat alternatif, yaitu tubuh keton dalam bentuk b-hidroksibutirat. Sebagian besar tubuh keton yang digunakan oleh otak dipasok oleh hati, tetapi mereka juga dapat disintesis dalam astrosit, yang merupakan satu-satunya jenis sel di otak yang dapat mengoksidasi asam lemak. Diet ketogenik banyak lemak sebagai sumber energi dan mengurangi konsumsi karbohidrat dan protein ketika tubuh tidak mendapatkan cukup glukosa dari karbohidrat, tubuh biasanya menggunakan energi alternatif yang bersumber dari tubuh keton, yaitu asetoasetat dan b- hidroksibutirat. Tubuh keton berasal dari pemecahan metabolisme asam lemak di hati di mana saat ini konsentrasi rendah dalam darah.</p> <p>Diet ketogenik yang dilakukan dalam waktu lama akan menyebabkan reaksi pada tubuh, termasuk otak. Pada rasa lapar yang berkepanjangan, 75% dari bahan bakar yang dibutuhkan oleh otak diperoleh dari tubuh keton. Otak dapat menjalankan fungsinya melalui energi yang berasal dari glukosa yang diangkut oleh darah. Semua faktor yang mempengaruhi aliran darah ke otak dapat berdampak pada proliferasi dan resistensi sel-sel internal di otak, termasuk penurunan glukosa dalam darah yang disebabkan oleh diet ketogenik.</p> <p><strong><em>Kata kunci: ketogenik, diet, otak, proliferasi, resistensi sel</em></strong></p> Copyright (c) 2019 JAMBI MEDICAL JOURNAL "Jurnal Kedokteran dan Kesehatan" https://online-journal.unja.ac.id/kedokteran/article/view/8019 Fri, 01 Oct 2021 00:00:00 +0700 PERBANDINGAN EFEK PEMBERIAN ASAM FOLAT SELAMA KEHAMILAN TERHADAP KADAR PROGESTERON, T4 DAN KEJADIAN NEURAL TUBE DEFECT (NTD) PADA TIKUS PUTIH (RATTUS NORVEGICUS) https://online-journal.unja.ac.id/kedokteran/article/view/8021 <p><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><strong><em>Background :</em></strong> <em>Folate needs increase during pregnancy because folate is needed for fetal growth and development. Folate deficiency can cause abnormalities in the mother (anemia, peripheral neuropathy) and the fetus (congenital abnormalities). Folic acid supplementation when conception is known to reduce the risk of neural tube defects (NTD) in the fetus. Pregnancy causes significant changes in iodine metabolism and quality, serum thyroid binding protein, and the development of the mother's thyroid gland. This study aims to determine the relationship of consumption of folic acid to progesterone, T4 and NTD levels. </em></p> <p><strong><em>Method :</em></strong> <em>This study was conducted in 32 rats divided into 4 treatment groups (aquadest, folate 600 µg, 800 µg, 1000 µg). folate administration is carried out on the first day of marriage until the 20<sup>th</sup> day (H-1 termination). Examination of T4 and Progesterone levels was carried out by the ELFA method. </em></p> <p><strong><em>Results</em></strong><em> : </em><em>The results showed no association between administration of folic acid with progesterone levels (p&gt; 0.05), T4 (p&gt; 0.05) and NTD incidence (p&gt; 0.05).</em></p> <p><strong><em>Keyword : Folate, T4, Progesteron</em></strong></p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p><strong>Latar Belakang :</strong> Kebutuhan folat meningkat selama masa kehamilan karena folat diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan janin. Kekurangan folat dapat menyebabkan kelainan pada ibu (anemia, neuropati perifer) maupun janin (kelainan bawaan). Suplementasi asam folat saat konsepsi diketahui dapat mengurangi risiko neural tube defect (NTD) pada janin (De Wals, 2007). Kehamilan menyebabkan perubahan signifikan pada metabolisme dan kirens iodium, serum <em>thyroid binding protein</em>, dan perkembangan kelenjar tiroid ibu. Studi ini bertujuan untuk mengetahui hubungan konsumsi asam folat terhadap kadar progesteron, T4 dan NTD.</p> <p><strong>Metode :</strong> Studi ini dilakukan pada 32 tikus yang dibagi menjadi 4 kelompok perlakuan (aquadest, folat 600 µg, 800 µg , 1000 µg). pemberian folat dilakukan pada hari pertama dikawinkan sampai hari ke 20 (H-1 terminasi). Pemeriksaan kadar T4dan Progesteron dilakukan dengan metode ELFA.</p> <p><strong>Hasil :</strong> Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan antara pemberian asam folat dengan kadar progesteron (p&gt; 0,05), T4 (p&gt; 0,05) dan angka kejadian NTD (p&gt; 0,05).</p> <p><strong><em>Kata kunci : &nbsp;&nbsp;&nbsp;folat, T4, Progesteron</em></strong></p> Copyright (c) 2019 JAMBI MEDICAL JOURNAL "Jurnal Kedokteran dan Kesehatan" https://online-journal.unja.ac.id/kedokteran/article/view/8021 Fri, 01 Oct 2021 00:00:00 +0700 HUBUNGAN SUMBER AIR BAKU DENGAN PH DAN TOTAL DISOLVED SOLID (TDS) AIR MINUM YANG BERSUMBER DARI DEPOT AIR MINUM ISI ULANG KOTA JAMBI https://online-journal.unja.ac.id/kedokteran/article/view/8026 <p><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><strong><em>Background:</em></strong><em> Increased drinking water needs of the community will also encourage the growing popularity of the use of drinking water depots Refill (DAMIU). One indicator of the quality of potable water such as pH and TDS. Source of raw water from the depot may be related to the pH and TDS. The purpose of this study was to determine the relationship between the source of raw water with pH and TDS of drinking water that comes from drinking water refill depot in the city of Jambi.</em></p> <p><strong><em>Method:</em></strong><em> This study is an observational study,PH and TDS examination of 93 drinking water refill drinking water depot in the city of Jambi. Information from the raw water source depot obtained through interviews. The data were tested using the testChi-Square.</em></p> <p><strong><em>Results:</em></strong><em> Raw source of drinking water refill depot in the city of Jambi generally derived from tap water (41.9%), with a pH in the unfavorable category as much as 78.5%, TDS in both categories as much as 92.5%. The statistical test of the relationship between the raw source water with a pH of the water that comes out of refill drinking water depot in the city of Jambi shows the P value 0.650 and the relationship between the raw source water with a TDS indicates P value 0.126.</em></p> <p><strong><em>Conclusion:</em></strong><em> There was no relationship between the raw source water with pH and TDS water from drinking water refill depot in the city of Jambi.</em></p> <p><strong><em>Keywords: pH, TDS, raw source, drinking water refill depots</em></strong></p> <p><em>&nbsp;</em></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p><strong>Latar Belakang:</strong> Meningkatnya kebutuhan masyarakat akan air minum juga mendorong semakin populernya penggunaan Depot Air Minum Isi Ulang (DAMIU). Salah satu indikator kualitas air yang layak minum diantaranya adalah pH dan TDS. Sumber air baku dari depot kemungkinan berhubungan dengan pH dan TDS. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara sumber air baku dengan pH dan TDS air minum yang bersumber dari depot air minum isi ulang di Kota Jambi.</p> <p><strong>Metode:</strong> Penelitian ini merupakan penelitian observasional<em>. </em>Dilakukan pemeriksaan pH dan TDS air minum dari 93 depot air minum isi ulang di Kota Jambi. Informasi sumber air baku dari depot didapat melalui wawancara. Data yang didapat diuji menggunakan uji <em>Chi-Square.</em></p> <p><strong>Hasil: </strong>Sumber baku air minum depot isi ulang di Kota Jambi pada umumnya berasal dari air PDAM (41,9%), dengan pH dalam kategori kurang baik sebanyak 78,5%, TDS dalam kategori baik sebanyak 92,5%. Uji statistik dari hubungan antara sumber baku air dengan pH air yang berasal dari Depot air minum isi ulang di Kota Jambi menunjukkan P <em>value</em> 0,650 dan hubungan antara sumber baku air dengan TDS menunjukkan P <em>value</em> 0,126.</p> <p><strong>Kesimpulan:</strong> Tidak terdapat hubungan antara sumber baku air dengan pH dan TDS air yang berasal dari Depot air minum isi ulang di Kota Jambi.</p> <p><strong>Kata kunci</strong> <strong>: </strong><strong>&nbsp;</strong><strong>pH, TDS, Sumber baku, Depot air minum isi ulang</strong></p> Copyright (c) 2019 JAMBI MEDICAL JOURNAL "Jurnal Kedokteran dan Kesehatan" https://online-journal.unja.ac.id/kedokteran/article/view/8026 Fri, 01 Oct 2021 00:00:00 +0700 BRAND EQUITY AND CUSTOMER’S LOYALTY IN HEALTHCARE SETTING: A NARRATIVE REVIEW https://online-journal.unja.ac.id/kedokteran/article/view/8027 <p><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><strong><em>Background:</em></strong><em> The growth of hospitals in the world is getting higher, and over time makes hope for the quality of better health services. Since 2012, in Indonesia, there has been an increase number of hospitals by 5.2%, with the number of hospitals amounting to 2,820 hospitals. The large number of hospitals has made competition between hospitals to attract customers even higher. Hospitals need to think about how to maintain the loyalty of their patients to build hospital’s income. One that influences brand loyalty is brand equity from the service provider. </em></p> <p><strong><em>Research objective:</em></strong><em> The purpose of this study is to assess the influence of brand equity on brand loyalty, and assess the values ​​that affect customer loyalty. </em></p> <p><strong><em>Method:</em></strong><em> The research method is a review of narrative literature using a systematic search, including 11 studies.</em></p> <p><strong><em>Result:</em></strong><em> This brand equity was found to have dimensions such as brand loyalty, brand association, brand awareness, brand trust and perceived quality. Patient loyalty can only be achieved by increasing patient satisfaction through good quality services. </em></p> <p><strong><em>Conclusion:</em></strong><em> Only by a good that patient re-visit intention could be build and in the end increase the hospital's revenue.</em></p> <p><strong><em>Keywords: brand equity, brand loyalty, customer loyalty, hospital</em></strong></p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p><strong>Latar belakang:</strong> Pertumbuhan rumah sakit di dunia semakin tinggi, dan seiring dengan waktu membuat harapan terhadap mutu pelayanan kesehatan semakin tinggi. Sejak tahun 2012 sampai dengan saat ini, di Indonesia terdapat peningkatan jumlah rumah sakit sebesar 5,2%, dengan jumlah rumah sakit sebesar 2.820 rumah sakit. Banyaknya jumlah rumah sakit membuat persaingan antar rumah sakit untuk menggaet pelanggan pun semakin tinggi. Rumah sakit perlu memikirkan bagaimana mempertahankan loyalitas dari pasien mereka untuk membangun pendapatan rumah sakit. Salah satu yang mempengaruhi loyalitas merek adalah ekuitas merek (<em>brand equity</em>) dari penyedia layanan.</p> <p><strong>Tujuan penelitian</strong>: &nbsp;ini adalah menilai pengaruh ekuitas merek terhadap loyalitas merek, dan menilai nilai-nilai yang mempengaruhi loyalitas pelanggan.</p> <p><strong>Metode</strong>: Peninjauan literatur naratif menggunakan pencarian sistematik, dengan menyertakan 11 studi. <strong>Hasil:</strong> Ekuitas merek ini ditemukan memiliki dimensi seperti loyalitas merek, asosiasi merek, kesadaran merek, kepercayaan merek dan kualitas yang dirasakan. Loyalitas pasien hanya dapat dicapai dengan meningkatkan kepuasan pasien melalui layanan berkualitas baik.</p> <p><strong>Kesimpulan</strong>: Hanya dengan kepuasan pasien yang baik, niat kunjungan ulang dapat dibangun dan akhirnya meningkatkan pendapatan rumah sakit</p> <p><strong><em>Kata kunci: ekuitas merek, loyalitas merek, loyalitas pelanggan, rumah sakit</em></strong></p> Copyright (c) 2019 JAMBI MEDICAL JOURNAL "Jurnal Kedokteran dan Kesehatan" https://online-journal.unja.ac.id/kedokteran/article/view/8027 Fri, 01 Oct 2021 00:00:00 +0700 LUARAN DINI REPAIR HIPOSPADIA SETELAH PROTOKOL PENCUCIAN GENITAL PREOPERATIF https://online-journal.unja.ac.id/kedokteran/article/view/8029 <p><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><strong><em>Background:</em></strong><em> The complications after hypospadias repair are still common in our institution. Previous study in 2015 shows that 42 % develop uretrocutaneus fistula, 6 % had meatal stenosis, and 7 % had wound dehiscense. Infection may be one of the factors that plays role in the development of those complications. Genital toilet before hypospadias repair is tought to be useful in skin cleaning by removing transient flora and some resident flora to reduce the colony which may cause wound infections. </em></p> <p><strong><em>Research Objective:</em></strong><em> The aim of this study is to review early outcome of hypospadias repair after preoperative genital toilet protocol. </em></p> <p><strong><em>Methods</em></strong><em>: This is an analytical retrospective study of hypospadias patients underwent repair between January 2015 and August 2018. Goup A without genital toilet and group B All patients received genital toilet using Chloroxylenol 2% twice a day for one week prior to surgery. Postoperative complication such as wound infection, wound dehiscence, meatal stenosis and urethrocutaneus fistula were recorded. </em></p> <p><strong><em>Results</em></strong><em>: group A were 42 underwent repair in 1 Year periode.Group B were 90 hypospadias patients underwent repair in 2.5 years period foutry five patients (49 %) underwent one stage repair, while 46 patients (51%) underwent staged repair ( 35% chordectomy and scrotoplasty; 16% staged uretroplasty). Wound infections were observed in&nbsp; 3% patient , wound dehiscence in&nbsp; 1 %. Among&nbsp; patients who underwent urethroplasty, uretrocutaneus fistula were developed in 23 % patients and meatal stenosis were developed in 5.% patients. Preoperative genital toilet was significant to decrease complication (p value: 0.044)</em><em>. </em></p> <p><strong><em>Conclusio</em></strong><em>n: preoperative Genital toilet is a safe, simple, and&nbsp; inexpensive method&nbsp; which can&nbsp; reduce the early complication of hypospadias repair</em></p> <p><strong><em>Keywords: outcome, hypospadia, genital toilet </em></strong></p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p><strong>Latar Belakang</strong>: komplikasi setelah dilakukan repair hipospadia masih sering terjadi di institusi kami. Penelitian sebelumnya menunjukkan 42% berkembang menjadi fistula uretrocutan, 6% meatal stenosis, dan 7% wound dehiscens. Infeksi merupakan salah satu dari faktor yang berperan dalam terjadinya komplikasi tersebut.pencucian genital sebelum dilakukan operasi bisa berguna dalam membersihkan dan menghilangkan transient flora dan beberapa flora pathogen untuk menuruni jumlah koloni yang dapat mengakibatkan infeksi luka operasi.<strong> Tujuan</strong> penelitian ini menilai luaran dini dari operasi hipospadia setelah dilakukan protocol pencucian genital sebelum operasi.</p> <p><strong>Metode:</strong> penelitian ini merupakan <em>descriptive retrospective study</em> pada pasien hipospadia yang telah dilakukan repair of antara Januari 2015 dan Agustus 2018. Kelompok A tanpa dilakukan protocol dan kelompok B dilakukan protocol Seluruh pasien mendapatkan pencucian genital menggunakan Chloroxylenol 2 % dua kali sehari selama satu minggu sebelum dilakukan pembedahan. Komplikasi pasca operasi seperti infeksi luka operasi, wound dehiscens, meatal stenosis, fistula uretrocutan dicatat.</p> <p><strong>Hasil</strong>: kelompok A sebanyak 42 pasien yang telah dilakukan repair hipospadia selama 1 tahun. kelompok B 90 pasien yang telah dilakukan operasi hipospadia selama 2.5 tahun dimana 43 pasien (49 %) operasi satu tahap, dan 47 pasien (51%) <em>staged repair</em> ( 35% kordektomi dan&nbsp; skrotoplasti; 16% <em>staged uretroplasty</em>). Infeksi luka operasi 3% patien, dehisen&nbsp; 1 %. Pada pasien yang dilakukan uretroplasty, fistula uretrokutan sebanyak 23 % pasien dan meatal stenosis sebanyak 5.% pasien. Pencucian genital sebelum operasi bermakna dalam menurunkan komplikasi (<em>p </em>value: 0.044).</p> <p><strong>Kesimpula</strong>n: Pencucian genital peoperatif merupakan metode yang aman, sederhana, and murah dalam menurunkan komplikasi dini setelah operasi hipospadia.&nbsp;</p> <p><strong>Kata kunci: <em>outcome, hypospadia, genital toilet</em></strong></p> Copyright (c) 2019 JAMBI MEDICAL JOURNAL "Jurnal Kedokteran dan Kesehatan" https://online-journal.unja.ac.id/kedokteran/article/view/8029 Fri, 01 Oct 2021 00:00:00 +0700 PERBANDINGAN SISTEM KESEHATAN DI NEGARA MAJU DAN NEGARA BERKEMBANG https://online-journal.unja.ac.id/kedokteran/article/view/8030 <p><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><strong><em>Background: </em></strong><em>The health sistem is an action effort with the main objective being to promote, restore or maintain one's health.<sup> &nbsp;</sup>More than 8 million people per year in developing countries and poor countries, die from conditions that can basically be prevented by the health sistem. 60% of deaths are due to conditions that can be prevented by health care.</em></p> <p><strong><em>Research objective</em></strong><em>: This study compares health sistems in five developing countries, namely China, India, Ghana, Mexico, South Africa and five developed countries, namely Australia, Canada, New Zealand, United Kingdom and United States. The variables being compared are in terms of Health Services, Access, Health Financing, Communication of Doctors and Patients, Prevention and Promotion of Health</em></p> <p><strong><em>Method</em></strong><em>: The method used in this research is Literature Review. </em></p> <p><strong><em>Results: </em></strong><em>There are striking differences between the health sistem in developed and developing countries. The problem of primary health care in developing countries is the slow process of health care. In developing countries the use of access is hampered due to the distance traveled, the use of access has not been optimal, and the use of access according to regulations is still not optimal by officers, while in developed countries the problem that occurs is the difficulty of getting an agreement with a doctor especially after working hours due to busy busyness. Prevention and health promotion efforts in developed countries are better done than developing countries which are more curative than preventive</em></p> <p><strong><em>Conclusion</em></strong><em>: Indeed, there are significant gaps in the health sistem in developed and developing countries. To overcome this gap, the world health program in developing sustainable goals must get the full support of all countries to create a health sistem that is able to overcome various health problems without any gaps.</em></p> <p><strong><em>Keyword: Health Sistem, Comparison of developed and developing countries</em></strong></p> <p><strong><em><br></em></strong> <strong><br></strong></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p><strong>Latar Belakang: </strong>Sistem kesehatan adalah upaya tindakan dengan tujuan utamanya adalah mempromosikan, memulihkan atau menjaga kesehatan seseorang. Lebih dari 8 juta orang pertahun di negara berkembang dan negara miskin, meninggal akibat kondisi yang pada dasarnya dapat dicegah dengan sistem kesehatan. Sebesar 60% kematian akibat dari kondisi yang dapat dicegah oleh perawatan ksehatan.</p> <p><strong>Tujuan penelitian: </strong>Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan sistem kesehatan yang ada di lima Negara Berkembang yaitu China, India, Ghana, Mexico, Afrika Selatan dan lima Negara Maju yaitu Australia, Kanada, New Zealand, United Kingdom dan United States. Adapun variabel yang dibandingkan adalah dari segi Pelayanan Kesehatan, Akses, Pembiayaan Kesehatan, Komunikasi dokter dan Pasien, Pencegahan dan Promosi Kesehatan.</p> <p><strong>Metode: </strong>Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah Literatur Review.</p> <p><strong>Hasil dan </strong><strong>pembahasan: </strong>Ada perbedaan menonjol antara sistem kesehatan di negara maju dan negara berkembang. Permasalahan pelayanan kesehatan primer di negara berkembang adalah lambatnya proses pelayanan kesehatan. Di negara berkembang pemanfaatan akses terhambat dikarenakan jauhnya jarak tempuh, belum optimalnya pemanfaatan akses, dan penggunaan akses sesuai regulasi yang masih belum optimal oleh petugas, sementara di negara maju permasalahan yang terjadi adalah sulitnya mendapat perjanjian dengan dokter terutama setelah jam kerja dikarenakan kesibukan yang padat. Upaya pencegahan dan promosi kesehatan di negara maju sudah lebih baik dilakukan dibandingkan negara berkembang yang lebih ke kuratif daripada preventif.</p> <p><strong>Kesimpulan: </strong>Memang terdapat kesenjangan atau gap yang cukup besar tentang sistem kesehatan di negara maju dan berkembang. Untuk mengatasi kesenjangan ini, program kesehatan dunia dalam development sustainable goals, harus lah mendapatkan dukungan penuh dari seluruh negara, untuk menciptakan sistem kesehatan yang mampu mengatasi berbagai masalah kesehatan tanpa adanya kesenjangan.</p> <p><strong><em>Kata kunci: Sistem Kesehatan, Perbandingan negara maju dan berkembang</em></strong></p> Copyright (c) 2019 JAMBI MEDICAL JOURNAL "Jurnal Kedokteran dan Kesehatan" https://online-journal.unja.ac.id/kedokteran/article/view/8030 Fri, 01 Oct 2021 00:00:00 +0700 PENGARUH FAKTOR STATUS SOSIOEKONOMI TERHADAP PEMILIHAN PENANGANAN PASIEN PATAH TULANG TERTUTUP KOMPLIT DI RSUD RADEN MATTAHER JAMBI https://online-journal.unja.ac.id/kedokteran/article/view/8031 <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p><strong><em>Background</em></strong><em>: Fractures are loss of continuity of bone structure, not only cracks or separation of the cortex, fractures often result in complete damage and separate bone fragments. In the case of closed complete fracture, cultural and economic are still the main reason for patients to refuse medical treatment. Because of that matters, people are still reluctant to go to the hospital and prefer alternative therapy.&nbsp;</em></p> <p><strong><em>Research objective:</em></strong><em> The purpose of this study was to determine the relationship between treatment selection of closed complete fracture based on the condition of the socio-economic status of the patient in Raden Mattaher Hospital Jambi since June 2019 until July 2019. </em></p> <p><strong><em>Method:</em></strong><em> The study was conducted retrospectively from medical record data of patients who experienced closed complete fracture during the period of June 2018 to June 2019. The sampling method is using a Non-Probability sampling with purposive sampling technique, and later the data was processed descriptively which included the patient's socioeconomic status. </em></p> <p><strong><em>Results:</em></strong><em> From the results of the research 125 patients were found with cases of closed complete fracture, as many as 91 (72.8%) are men with productive age who came from various fields of work. The location that is often affected is femur bone as many as 37 patients (29.6%). We found that 48 patients (38.4%) prefer alternative therapy and 26 of them (54,17%) are from the Class III treatment room, 13 patients (27.08%) are from the Class II treatment room, and class I treatment room as many as 9 patients (18.75%).</em></p> <p><strong><em>Conclusion:</em></strong><em> This shows the lower the treatment class, the higher the patient chooses alternative therapy.&nbsp;</em><em>This study showed that s</em><em>osio-economic status is still related to the therapy selection.</em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><strong><em> closed complete fracture, socioeconomic, therapy selection</em></strong></p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p><strong>Latar Belakang:</strong> Fraktur adalah hilangnya kontinuitas struktur tulang, tidak hanya keretakan atau terpisahnya korteks, fraktur sering mengakibatkan kerusakan yang komplit dan fragmen tulang terpisah. Pada kasus fraktur tertutup komplit, budaya serta ekonomi terbatas masih menjadi alasan utama pasien untuk menolak tindakan medis. Sehingga masyarakat masih enggan untuk berobat ke Rumah Sakit dan lebih memilih untuk pengobatan alternatif.</p> <p><strong>Tujuan penelitian</strong>: &nbsp;ini adalah untuk mengetahui hubungan pemilihan terapi pada kasus closed complete fracture dengan status sosial ekonomi untuk melakukan pemilihan terapi di RSUD Raden Mataher Jambi. <strong>Metode:</strong> Penelitian dilakukan secara retrospektif yang diambil dari data rekam medis pasien yang mengalami fraktur tertutup komplit dalam kurun waktu Juni 2018 sampai Juni 2019. Cara pengambilan sampel penelitian menggunakan <em>Non-Probability sampling</em> dengan teknik purposive sampling kemudian data diolah secara deskriptif yang meliputi status sosioekonomi pasien.</p> <p><strong>Hasil:</strong> Dari hasil penelitian ditemukan sebanyak 125 pasien kasus fraktur tertutup komplit dengan komposisi terjadi pada laki-laki sebanyak 91 pasien (72.8%) dan terjadi pada usia produktif yang berasal dari berbagai macam bidang pekerjaan. Kasus terbanyak adalah fraktur femur sebanyak 37 pasien (29.6%), 48 pasien (38.4%) lebih memilih terapi alternatif dan 26 pasien (54.17%) diantaranya berasal dari ruang perawatan kelas III, dari ruang perawatan kelas II sebanyak 13 pasien (27.08%), serta dari ruang perawatan kelas I sebanyak 9 pasien (18.75%).</p> <p><strong>Kesimpulan dan saran:</strong> Semakin rendah ruang kelas perawatan semakin tinggi untuk pasien memilih terapi alternatif. Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara status sosioekonomi pasien terhadap pemilihan terapi pasien.</p> <p><strong><em>Kata kunci: fraktur tertutup komplit, sosial ekonomi, pemilihan terapi</em></strong></p> Copyright (c) 2019 JAMBI MEDICAL JOURNAL "Jurnal Kedokteran dan Kesehatan" https://online-journal.unja.ac.id/kedokteran/article/view/8031 Fri, 01 Oct 2021 00:00:00 +0700 IDENTIFIKASI LARVA DAN NYAMUK DI SEKARJAYA BATURAJA KABUPATEN OGAN KOMERING ULU SUMATERA SELATAN INDONESIA SEBAGAI LANGKAH AWAL PENGENDALIAN FLAVIVIRUS https://online-journal.unja.ac.id/kedokteran/article/view/8028 <p><strong>A</strong><strong>BSTRACT</strong></p> <p><strong>Background:</strong> vector and disease data from the Flaviviridae family of Ogan Komering Ulu Regency, South Sumatra, Indonesia, are not known, so that larvae and mosquitoes are found in Sekarjaya Baturaja, South Sumatra Ogan Komering Ulu Regency, as an early warning before the Flavivirus outbreak.</p> <p><strong>Research objective:</strong> This research was conducted to find out the larvae and mosquito species caught in the Sekarjaya sub-district of Ogan Komering Ulu Regency, South Sumatra, Indonesia.</p> <p><strong>Method:</strong> mosquitoes use the odor sentinel trap method, in the morning (resting), animal-baited trap net, light trap. The research design was descriptive observational (field and laboratory).</p> <p><strong>Results:</strong> this research showed that larval species were found in the study area in one survey, namely, Ae. aegypti, Ae. albopictus, Culex sp. and Armigeres sp. Species of mosquitoes found in the research area in one arrest are, Cx. tritaeniorhyncus, Cx. vishnui, Cx. gellidus, Cx. quinquefasciatus, Cx. nigropunctatus, Cx. whitei, Cx. fuscocephalus, Cx. hutchinsoni, Cx. bitaeniorhyncus, Cx. mimulus, An. vagus, An. barbirostris, An. tesselatus, An. nigerrimus, An. kochi, Ae. albopictus, Ae. vexans, Ae. aegypti, Aedes sp. and Ar. subalbatus.</p> <p><strong><em>Keywords: Viruses, Flaviviridae, Larvae and Mosquitoes, Baturaja</em></strong></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>A</strong><strong>BSTRAK</strong></p> <p><strong>Pendahuluan:</strong> data vektor dan penyakit dari famili Flaviviridae Kabupaten Ogan Komering Ulu Sumatera Selatan, Indonesia belum diketahui, sehingga dengan demikian perlu diketahui larva dan nyamuk yang terdapat di Sekarjaya Baturaja Kabupaten Ogan Komering Ulu Sumatera Selatan, sebagai upaya peringatan dini sebelum terjadinya outbreak Flavivirus.</p> <p><strong>Tujuan Penelitian:</strong> ini dilakukan untuk mengetahui spesies larva dan nyamuk yang tertangkap di kelurahan Sekarjaya Kabupaten Ogan Komering Ulu Sumatera Selatan, Indonesia.</p> <p><strong>Metode:</strong> nyamuk menggunakan metode <em>odor sentinel trap</em>, pagi hari (<em>resting)</em>, <em>animal-baited trap net, light tra</em><em>p</em>. &nbsp;Desain penelitian adalah bersifat deskriptif observasional (lapangan dan laboratorium).</p> <p><strong>Hasil</strong><strong>:</strong> penelitian menunjukkan bahwa Species larva yang di temukan di wilayah penelitian&nbsp; dalam satu kali survei yaitu, <em>Ae. Aegypti</em>, <em>Ae. Albopictus,</em> <em>Culex </em>sp. dan <em>Armigeres </em>sp<em>.</em>&nbsp; Species nyamuk yang di temukan diwilayah penelitian dalam satu kali penangkapan yaitu, <em>Cx.tritaeniorhyncus</em>, <em>Cx.vishnui, Cx.gellidus, Cx.quinquefasciatus, Cx.nigropunctatus, Cx.whitei, Cx.fuscocephalus, Cx.hutchinsoni, Cx.bitaeniorhyncus, Cx.mimulus, An.vagus, An.barbirostris, An.tesselatus, An.nigerrimus, An.kochi, Ae.albopictus, Ae.vexans, Ae.aegypti, Aedes </em>sp<em>.</em><em> dan Ar.subalbatus</em>.</p> <p><strong><em>K</em></strong><strong><em>ata Kunci</em></strong><strong><em>: Virus, Flaviviridae, larva dan Nyamuk, Baturaja</em></strong></p> Copyright (c) 2019 JAMBI MEDICAL JOURNAL "Jurnal Kedokteran dan Kesehatan" https://online-journal.unja.ac.id/kedokteran/article/view/8028 Fri, 01 Oct 2021 00:00:00 +0700 GAMBARAN KLINIS DAN LABORATORIUM PADA PASIEN PNEUMONIA DI ICU RSUD RADEN MATTAHER JAMBI https://online-journal.unja.ac.id/kedokteran/article/view/8032 <p><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><strong><em>Background</em></strong><em>: Appropriate and rapid diagnosis and management through clinical presentation and laboratory results of pneumonia patients can reduce morbidity and mortality.</em></p> <p><strong><em>Research Objectives:</em></strong><em> This study aims to determine the clinical and laboratory features in pneumonia patients.</em></p> <p><strong><em>Research Methods</em></strong><em>: Research is descriptive, including clinical and laboratory symptoms</em></p> <p><strong><em>Results</em></strong><em>: Of the 22 ICU pneumonia patients consisting of 9 patients VAP (40.90%), 8 patients HAP (36.36%) and CAP 5 patients (22.73%). With 9 patients (40.90%) neurological cases, 5 patients (22.73%) internal medicine cases, 6 patients (27.27%) neurosurgery cases and 2 patients (9.09%) digestive surgery cases. The highest number of deaths was 13 patients (59.09%), while moving to HCU 5 patients (22.72%), moved in 3 patients (13.63%) and went home at the request of one patient (4,54 %). Awareness at the time of ICU coma in 2 patients (9.09%), sopor 5 patients (22.72%), somnolence 11 patients (50%), apathy 2 patients (9.09%) and compos mentis 2 patients (9, 09%). Diastolic blood pressure 59-119 mmHg and systolic 87-218 mmHg. The pulse is 72-142 times / minute, the temperature is 36.1-39.9oC. Laboratory results: the number of leukocytes 5.12-31.03 cells / µL, hemoglobin 2.5-15.9 g / dL, the number of erythrocytes 0.71-5.47 cells / µL, hematocrit 7.30-46.30% and platelet counts 94-666 cells / µL. Uterum kidney function 10-215 mg / dl and Creatinine 0.6-13.7 mg / dl</em></p> <p><strong><em>Conclusions</em></strong><em>: Pneumonia patients were mostly VAP and HAP in 17 patients (77.27%). The highest number died in 13 patients (59.09%). Awareness at the time of admission was highest for 11 patients (50%). Low-high diastolic tension and normal-high systolic. Normal-fast pulse, normal-high temperature. Laboratory results: normal-high leukocyte count, hemoglobin, erythrocyte count, low-normal hematocrit and low-high platelet count. The function of the kidney ureum and creatinine is normal. We suggest rapid diagnosis of pneumonia treated in the ICU by comparison of the data above with the results of research describing clinical symptoms and local laboratory results</em></p> <p><strong><em>Keywords</em></strong><em>: clinical picture, laboratory, CAP, HAP, VAP</em></p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p><strong>Latar Belakang: </strong>Diagnosis dan penatalaksanaan yang tepat dan cepat melalui gambaran klinis dan hasil laboratorium pasien pneumonia dapat mengurangi angka kesakitan dan kematian..</p> <p><strong>Tujuan Penelitian: </strong>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran klinis dan laboratorium pada pasien pneumonia.</p> <p><strong>Metode Penelitian: </strong>Penelitian bersifat deskriptif, meliputi gejala klinik dan laboratorium.</p> <p><strong>Hasil Penelitian: </strong>Dari 22 pasien pneumonia ICU terdiri dari VAP 9 pasien (40,90%), HAP 8 pasien (36,36%) dan CAP 5 pasien (22,73%). Dengan penyakit dasar 9 pasien (40,90%) kasus neurologi, 5 pasien (22,73%) kasus penyakit dalam, 6 pasien (27,27%) kasus bedah saraf dan 2 pasien (9,09%)&nbsp; kasus bedah digestif.&nbsp; &nbsp;Luaran yang ada terbanyak meninggal 13 pasien (59,09%), sedangkan pindah ke HCU 5 pasien (22,72%), pindah ruang rawat inap 3 pasien (13,63%) dan pulang atas permintaan sendiri 1 pasien (4,54%). Kesadaran pada waktu masuk ICU koma 2 pasien (9,09%), sopor&nbsp; 5 pasien (22,72%), somnolens 11 pasien (50%), apatis 2 pasien (9,09%) dan compos mentis 2 pasien (9,09%). Tensi diastolik 59-119 mmHg dan sistolik 87-218 mmHg. Nadi 72-142 kali/ menit, suhu 36,1-39,9<sup>o</sup>C. Hasil laboratorium :&nbsp; jumlah lekosit 5,12-31,03 sel/µL, hemoglobin 2,5-15,9 g/dL , jumlah eritrosit 0,71-5,47 sel/µL, hematokrit 7,30-46,30% dan jumlah trombosit 94-666 sel/µL. Fungsi ginjal ureum 10-215 mg/dl dan Creatinine 0,6-13,7 mg/dl.</p> <p><strong>Kesimpulan: </strong>Pasien pneumonia sebagian besar VAP dan HAP 17 pasien (77,27%). Luaran terbanyak meninggal 13 pasien (59,09%). Kesadaran pada waktu masuk terbanyak somnolens 11 pasien (50%).&nbsp; Tensi diastolic rendah-tinggi dan sistolik normal-tinggi. Nadi normal-cepat, suhu normal-tinggi. Hasil laboratorium:&nbsp; jumlah lekosit normal-tinggi, hemoglobin, jumlah eritrosit, hematokrit rendah-normal dan jumlah trombosit rendah-tinggi. Fungsi ginjal ureum dan Creatinine normal-tinggi. Diagnosa cepat pneumonia yang dirawat di ICU dengan perbandingan data diatas hasil penelitian deskripsi gejala klinik dan hasil laboratorium setempat.</p> <p><strong><em>Kata kunci : gambaran klinis, laboratorium, CAP, HAP, VAP </em></strong></p> <p>&nbsp;</p> Copyright (c) 2019 JAMBI MEDICAL JOURNAL "Jurnal Kedokteran dan Kesehatan" https://online-journal.unja.ac.id/kedokteran/article/view/8032 Fri, 01 Oct 2021 00:00:00 +0700 HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP DENGAN STATUS GIZI PADA SISWA SEKOLAH DASAR DI JAKARTA https://online-journal.unja.ac.id/kedokteran/article/view/8025 <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><strong><em>Background:</em></strong><em> In between 1980 and 2013, there was a remarkable increased of obesity prevalence globally in adults and childhood which are 27,5% and 47,1%, respectively. In addition, good knowledge and positive attitude are very related in order to prevent obesity particularly the behavior. </em></p> <p><strong><em>Research Objective: </em></strong><em>This study had been conducted to find any differences regarding the relationship between knowledge-attitude in both private and public elementary school students (SDS and SDN) with their nutritional status. </em></p> <p><strong><em>Method:</em></strong><em> This was a cross-sectional observational analytic research with a total of 403 students in two private and two public elementary schools in Jakarta.Data was taken with knowledge and attitude questionnaires as the instrument in terms of knowledge.</em></p> <p><strong><em>Results:</em></strong><em> There were 62,7% SDS students with good knowledge whilst 58,1% in SDN. Moreover, more than half participants both in SDN and SDS had a positive attitude with 50,3% and 55,9%, respectively. Meanwhile, SDS participants were more overweight </em><em>(19,1%; 16,2%) </em><em>and obese </em><em>(24,2%; 10,8%) </em><em>than SDN. </em></p> <p><strong><em>Conclusion:</em></strong><em> A Significant association was found between knowledge and nutritional status in SDN. SDS tended to have a higher number of overweight and obese students than SDN.</em></p> <p><strong><em>Keywords: Knowledge, attitude, obesity, elementary school students</em></strong></p> <p><strong><em>&nbsp;</em></strong></p> <p><strong><em>ABSTRAK</em></strong></p> <p><strong>Latar Belaka</strong>ng: Prevalensi obesitas meningkat dengan pesat antara tahun 1980 dan 2013 yaitu sebesar 27,5% pada orang dewasa dan 47,1% pada anak-anak. Obesitas dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan baik medis dan psikososial, yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan biaya kesehatan suatu negara. Pengetahuan yang baik dan sikap yang positif berkaitan dengan perilaku pencegahan kegemukan dan pada akhirnya akan memengaruhi status gizi seseorang.</p> <p><strong>Tujuan:</strong> Penelitian ini dilakukan untuk melihat perbedaan hubungan pengetahuan dan sikap antara siswa SDN dan SDS dengan status gizi mereka.</p> <p><strong>Metode:</strong> Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain studi potong-lintang. Sampel penelitian adalah semua siswa SD kelas IV dan V di 2 SDN dan 2 SDS berjumlah 403 murid. Pengambilan data menggunakan kuesioner pengetahuan dan sikap.</p> <p><strong>Hasil:</strong> Terdapat 62,7% responden SDS memiliki pengetahuan tinggi, sedangkan 58,1% pada siswa SDN memiliki pengetahuan rendah. Lebih dari separuh responden baik di SDN dan SDS mempunyai sikap positif (50,3%; 55,9%). Responden SDS lebih banyak mempunyai status gizi gemuk (19,1%; 16,2%) dan obesitas (24,2%; 10,8%) dibandingkan responden SDN.</p> <p><strong>Kesimpulan:</strong> Terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan dan status gizi pada SDN. Siswa SDS cenderung mempunyai status gizi gemuk dan obesitas dibandingkan SDN.</p> <p><strong><em>K</em></strong><strong><em>a</em></strong><strong><em>t</em></strong><strong><em>a kunci</em></strong><em>: <strong>pengetahuan, sikap, obesitas, siswa SD</strong></em></p> Copyright (c) 2019 JAMBI MEDICAL JOURNAL "Jurnal Kedokteran dan Kesehatan" https://online-journal.unja.ac.id/kedokteran/article/view/8025 Fri, 01 Oct 2021 00:00:00 +0700