Jurnal Psikologi Jambi https://online-journal.unja.ac.id/jpj <table style="width: 530px;"> <tbody> <tr> <td style="width: 112px;"><strong>Journal title</strong><br><strong>Initials</strong><br><strong>Frequency</strong><br><strong>DOI</strong><br><strong>Online ISSN</strong><br><strong>Print ISSN</strong><br><strong>Publisher</strong><br><strong>Editor in Chief</strong></td> <td style="width: 404px;">Jurnal Psikologi Jambi<br>JPJ<br>July and October<br>Crossref<br><a href="http://issn.pdii.lipi.go.id/issn.cgi?daftar&amp;1497577721&amp;1&amp;&amp;">2580-7021</a><br><a href="http://issn.pdii.lipi.go.id/issn.cgi?daftar&amp;1457939573&amp;1&amp;&amp;">2528-2735</a><br>Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi<br>Agung Iranda</td> </tr> </tbody> </table> <table> <tbody> <tr> <td> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Jurnal Psikologi Jambi (JPJ)</strong> is an open access peer-reviewed journal that aims to share and discuss issues and research results. This journal is published by Faculty of Medicine and Health Sciences of Jambi University.</p> <p style="text-align: justify;">Focus and scope of <strong>Jurnal Psikologi Jambi (JPJ)</strong> is promoting the development of psychology through the publication of research articles with new findings and scientific and strict methodology of topics related to the following psychology:</p> <ol> <li class="show">Psychology Clinic</li> <li class="show">Developmental psychology</li> <li class="show">Industrial/Organizational Psychology</li> <li class="show">Educational Psychology</li> <li class="show">Social Psychology</li> <li class="show">Psychometric</li> <li class="show">Experimental psychology</li> <li class="show">Applied Psychology</li> </ol> <p style="text-align: justify;"><strong>Jurnal Psikoloagi Jambi (JPJ)</strong> receives empirical research manuscripts with the above topics that meet the standards of publication in the Journal of Psychology.&nbsp;<strong><br><br></strong><strong>Jurnal Psikologi Jambi (JPJ)</strong> is published media for research results field. These results are published in such an original scientific article and a review. Submitted manuscript must be original, no plagiarism and unpublished. Manuscript is submitted online via Open Journal System (OJS), must follow author guideline and writting template. All submission will be blind reviewed by qualified reviewers in their field.</p> </td> </tr> </tbody> </table> en-US jurnalpsikologi@unja.ac.id (Agung Iranda) yunninaekawati@yahoo.com (Yun Nina Ekawati) Sat, 01 May 2021 00:00:00 +0700 OJS 3.2.1.1 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 HUBUNGAN PERSEPSI KONDISI LINGKUNGAN KERJA DAN BEBAN KERJA DENGAN STRES KERJA PERAWAT https://online-journal.unja.ac.id/jpj/article/view/10312 <p><strong>Introduction </strong>Job stress has been referred to as workplace hazard since 1950s. Workers of health and social services are assumed to have the tendency of burnout about 10-20% caused by experiencing high levels of job stress in a long period of time. Indonesian National Nurse Association’s survey on 2006 showed about 50,9% Indonesian nurses had been experiencing job stress indicated by physical and psychological syptoms, also changes of behavior. Some studies stated that perception of work environment and workload will contribute to job stress.<br /><strong>Method</strong> The purpose of this study is to verify correlation and to determine the contribution of perception of work environment and workload to job stress experienced by nurses who work at Regional Mental Hospital of Jambi Province. This cross-sectional study used quantitative approach with the type of correlational analytic research. The random sampling was used to obtain 75 nurses as research’s sample. This research used 3 measurement scales and analyzed with regression analysis.<br /><strong>Results</strong> There was a significant positive correlation between perception of work environment, workload and job stress with F score = 24,316. Perception of work environment and workload contribute about 38,7% for job stress, with workload’s contribution was bigger than perception of work environment which is about 35,7%.<br /><strong>Conclusions And Recommendations</strong> Doctor and nurses are said to have bigger tendency of having job stress. Job stress is stated by some studies could be caused by perception of work environment and workload. This research has resulted that 38,7% job stress of nurses who work at Regional Mental Hospital of Jambi Province is contributed by perception of work environment and workload. As this research is done and can be used as reference, Regional Mental Hospital of Jambi Province is expected to be able to handle the problems related to work environment and the workload in order to prevent the job stress of nurses that could decrease the work productivity and efficiency.<br /><strong>Keywords</strong> Job stress, perception, work environment</p> <p>ABSTRAK</p> <p><strong>Pendahuluan</strong> Stres kerja telah disebut sebagai bahaya di tempat kerja sejak 1950-an. Pekerja layanan kesehatan dan sosial diasumsikan memiliki kecenderungan kelelahan sekitar 10-20% disebabkan oleh tingkat stres kerja yang tinggi dalam jangka waktu yang lama. Survei Asosiasi Perawat Nasional Indonesia pada tahun 2006 menunjukkan sekitar 50,9% perawat Indonesia telah mengalami stres kerja yang ditunjukkan oleh perilaku fisik dan psikologis, juga perubahan perilaku. Beberapa penelitian menyatakan bahwa persepsi lingkungan kerja dan beban kerja akan berkontribusi terhadap stres kerja.</p> <p><strong>Metode</strong> Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memverifikasi korelasi dan untuk mengetahui kontribusi persepsi lingkungan kerja dan beban kerja terhadap stres kerja yang dialami oleh perawat yang bekerja di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Jambi. Penelitian cross-sectional ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian analitik korelasional. Pengambilan sampel acak digunakan untuk mendapatkan 75 perawat sebagai sampel penelitian. Penelitian ini menggunakan 3 skala pengukuran dan dianalisis dengan analisis regresi.</p> <p><strong>Hasil</strong> Ada korelasi positif yang signifikan antara persepsi lingkungan kerja, beban kerja dan stres kerja dengan skor F = 24,316. Persepsi lingkungan kerja dan beban kerja berkontribusi sekitar 38,7% untuk stres kerja, dengan kontribusi beban kerja lebih besar dari persepsi lingkungan kerja yaitu sekitar 35,7%.</p> <p><strong>Kesimpulan dan Rekomendasi</strong> Dokter dan perawat dikatakan memiliki kecenderungan lebih besar mengalami stres kerja. Stres kerja dinyatakan oleh beberapa penelitian dapat disebabkan oleh persepsi lingkungan kerja dan beban kerja. Penelitian ini telah menghasilkan bahwa 38,7% stres kerja perawat yang bekerja di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Jambi dikontribusikan oleh persepsi lingkungan kerja dan beban kerja. Karena penelitian ini dilakukan dan dapat digunakan sebagai referensi, Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Jambi diharapkan dapat menangani masalah masalah yang berkaitan dengan lingkungan kerja dan beban kerja untuk mencegah stres kerja perawat yang dapat menurunkan produktivitas kerja dan efisiensi.</p> <p><strong>Kata kunci</strong> Stres kerja, persepsi, lingkungan kerja</p> Astika Syafitri, Jelpa Periantalo, Rumita Ena Sari Copyright (c) 2019 Jurnal Psikologi Jambi https://online-journal.unja.ac.id/jpj/article/view/10312 Sat, 01 May 2021 00:00:00 +0700 PENGARUH RELIGIOSITAS TERHADAP STRES PADA TARUNA TINGKAT I POLITEKNIK PELAYARAN SUMATRA BARAT https://online-journal.unja.ac.id/jpj/article/view/10313 <p><strong>Introduction</strong> The purpose of this research is to explore the impact of religiosity in stress reduction in level I cadets at sailing Polytechnic in West Sumatra. The participants involved consist of 123 cadets sampled through stratified sampling procedure.<br /><strong>Method</strong> Instruments used include scale of religiosity and scale of stress. Religiosity has five dimensions, namely, belief, worship or religious practice, experience, religious knowledge, and practice or consequence while stress has two aspects, i.e. biological and psychological aspects.<br /><strong>Result</strong> This study finds that 83.7% of the participants has high level of religiosity. Similarly, the level of stress experienced is also categorized as high at 50.4% of the participants. Religiosity is found to have a significant influence on stress indicated at -6.533 with t-score religiosity. The negative value indicates that the higher the level of religiosity the cadets have, the lower stress level is experienced. Conversely, declining levels of religiosity contributes to the increase of stress.<br /><strong>Conclusions and recommendation</strong> This finding suggests that religiosity seems to have a significant role in reducing stres. Further study is needed to confirm if institutional initiatives to supplement the curriculum with programs promoting religious activity may result in lower stress levels.<br /><strong>Keyword</strong> Religiosity, Stress, Youth</p> <p>ABSTRAK</p> <p><strong>Pendahuluan</strong> Politeknik Pelayaran Sumatra Barat merupakan pendidikan tinggi semi-militer yang menanamkan pendidikan karakter yaitu berupa kerapian, kedisiplinan, tanggap, tanggung jawab dan handal. Selama pendidikan di Politeknik Pelayaran Sumatra Barat taruna diharuskan tinggal di asrama, mengalami rutinitas yang padat dan adanya tuntutan akademis yang membuat taruna menjadi tertekan. Banyak penelitian sebelumnya memprediksi bahwa Dengan adanya religiositas yang dimiliki taruna, mereka mampu mengatasi semua beban masalah yang dihadapi. Sedangkan jiwa yang tingkat spiritual kurang bagus dapat menyebabkan stres. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada pengaruh religiositas terhadap stres Taruna tingkat I Politeknik Pelayaran Sumatra Barat. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 123 orang.</p> <p><strong>Metode</strong> Penelitian ini menggunakan skala religiositas dan skala stres. Religiositas memiliki lima dimensi, yaitu kepercayaan, ibadah atau praktik keagamaan, pengalaman, pengetahuan agama, dan pengamalan atau konsekuensi. Sedangkan stres memiliki dua aspek, yaitu aspek biologis dan psikologis.</p> <p><strong>Hasil</strong> Penelitian ini membuktikan bahwa tingkat religiositas taruna tingkat I Politeknik Pelayaran Sumatra Barat dikategorikan tinggi yaitu 103 orang dengan persentase 83,7%, tingkat stres taruna tingkat I Politeknik Pelayaran Sumatra Barat dikategorikan tinggi yaitu 62 orang dengan persentase 50,4%. Serta religiositas memiliki pengaruh secara signifikan terhadap stres yaitu dengan nilai signifikansi sebesar 0,000  0,05 dengan thitung religiositas sebesar -6,533. Nilai negatif pada thitung religiositas berarti bahwa kenaikan religiositas terbukti dapat menurunkan tingkat stres pada taruna tingkat I Politeknik Pelayaran Sumatra Barat. Sebaliknya penurunan tingkat religiositas akan meningkatkan tingkat stres pada taruna tingkat I Politeknik Pelayaran Sumatra Barat.</p> <p><strong>Diskusi dan Saran</strong> Hasil penelitian ini membuktikan bahwa religiositas ternyata memiliki pengaruh yang siginifikan untuk mengurangi stres pada taruna. Hasil ini menjadi catatan penting terutama bagi instansi Politeknik Pelayanan Sumatra Barat untuk dapat mendukung peningkatan religiositas taruna dengan seperti pembuatan program rutin keagmaan, meningkatkan sarana ibadah, dan lain sebagainya yang bertujuan untuk memberikan ruang beribadah bagi taruna sehingga bisa meningkatkan atau mempertahankan religiositasnya. Ketika religiositas taruna tinggi maka tingkat stress mereka dapat ditekan sehingga keberhasilan taruna dalam pendidikan juga diprediksi akan lebih tinggi.</p> <p><strong>Kata Kunci :</strong> Religiositas, Stres, Taruna</p> Hanifah Thahri, Hasneli, Widia Sri Ardias Copyright (c) 2019 Jurnal Psikologi Jambi https://online-journal.unja.ac.id/jpj/article/view/10313 Sat, 01 May 2021 00:00:00 +0700 PENERAPAN MODEL INKUIRI TERBIMBING BERBASIS LESSON STUDY TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP DAN KETERAMPILAN KOMUNIKASI MAHASISWA PADA MATAKULIAH FISIOLOGI HEWAN DAN MANUSIA UNIVERSITAS NEGERI MALANG https://online-journal.unja.ac.id/jpj/article/view/10334 <p><strong>Introduction</strong> The purpose of education is directed in accordance with developments in technology, information, and communication. Students are expected to have skills and skills. Understanding concept is the basis for achieving various 21st century. The results of observations indicate understanding of student’s concepts and communications skills is low. The right solution to solve this problem is the application of guided inquiry based on Lesson Study (LS).<br /><strong>Method</strong> Classroom action research method using a qualitative descriptive approarch based on lesson study in the form of plan, do, see stages.<br /><strong>Results</strong> The results showed that the implementation of inquiry learning syntax in the first cycle was 98% and increased in the second cycle to 100%. The application of inquiry can increase student’s understanding of concepts by a percentage of 71,75 in the first cycle and increased to 81,3 in the second cycle. Communication skills with a classical average of 81,2 in the first cycle and increased to 84,95 in the second cycle.<br /><strong>Conclusions and Recomendations</strong> Criteria for the implementation of the inquiry model and lesson study are very accomplished and can improve student’s understanding of concepts and communications skills.<br /><strong>Keywords</strong> inquiry learning, understanding of concept, communication skills, Lesson Study (LS)</p> <p>ABSTRAK</p> <p><strong>Pendahuluan</strong> Tujuan pendidikan diarahkan sesuai dengan perkembangan teknologi, informasi, dan komunikasi. Mahasiswa diharapkan memiliki kecakapan dan keterampilan. Pemahaman konsep merupakan dasar untuk mencapai berbagai keterampilan abad 21. Keterampilan komunikasi merupakan salah satu kecakapan yang harus dimiliki di abad 21. Hasil observasi menunjukkan pemahaman konsep dan keterampilan komunikasi mahasiswa masih rendah. Solusi yang tepat untuk menyelesaikan masalah ini adalah penerapan Inkuiri Terbimbing berbasis Lesson Study (LS).</p> <p><strong>Metode</strong> Penelitian tindakan kelas dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif berbasis lesson study berupa tahapan plan, do, see.</p> <p><strong>Hasil</strong> Penelitian menunjukkan bahwa keterlaksanaan sintaks pembelajaran inkuiri pada siklus I sebesar 98% dan meningkat pada siklus II menjadi 100%. Penerapan inkuiri dapat meningkatkan pemahaman konsep mahasiswa dengan persentase 71,75 pada siklus I dan meningkat menjadi 81,3 pada siklus II. Keterampilan komunikasi dengan rata-rata klasikal sebesar 81,2 pada siklus I dan meningkat menjadi 84.95 pada siklus II.</p> <p><strong>Kesimpulan dan Saran</strong> Kriteria keterlaksanaan model inkuiri dan lesson study sangat terlaksana serta dapat meningkatkan pemahaman konsep dan keterampilan komunikasi mahasiswa.</p> <p><strong>Kata Kunci</strong> pembelajaran inkuiri, pemahaman konsep, keterampilan komunikasi, Lesson Study (LS).</p> <p> </p> Nosi Qadariah, Murni Saptasari, Sri Endah Indriwati Copyright (c) 2019 Jurnal Psikologi Jambi https://online-journal.unja.ac.id/jpj/article/view/10334 Sat, 01 May 2021 00:00:00 +0700 HUBUNGAN ANTARA HARGA DIRI DENGAN PERILAKU ASERTIF PADA REMAJA DI SMA NEGERI 5 KOTA JAMBI https://online-journal.unja.ac.id/jpj/article/view/10335 <p><strong>Introduction</strong> The adolescents need to have an important attitude as a tool to communicate visibly and firmly about their needs by assertive behavior. Adolescents’ assertive behavior appear due to positive self-esteem which increasing the assurance for what they are doing is valuable.<br /><strong>Method</strong> The research is a quantitative study with correlational approach. The sample was selected by Proportionate Startified random sampling technique. The research took place in SMA Negeri 5 Kota Jambi with the amount of 105 subjects. This research uses self-esteem scale and assertive behavior scale as the measurement tools. Pearson’s product moment correlation technique is used as data analysis methods.<br /><strong>Results</strong> The result shows that there is a significantly positive relationship between self-esteem and assertive behavior (rxy = 0,620; p&lt;0,01). Self-esteem has 38,4% effective contribute to assertive behavior, while the remaining 61,6% was contributed by the other factors.<br /><strong>Conclusions and Recomendation</strong> Adolescents with positive self-esteem has the ability to be assertive in their behavior, which make the adolescent feel free to express what they think and able to tell it by their saying or their doing. They also able to communicate with others, have the active visions about life by chasing what they want.<br /><strong>Keywords</strong>: Self-esteem, assertive behavior, adolescent</p> <p>ABSTRAK </p> <p><strong>Pendahuluan</strong> Para remaja membutuhkan suatu sikap yang penting untuk dimiliki dalam mengkomunikasikan secara jelas dan tegas atas kebutuhan melalui kemampuan berperilaku asertif. Asertifitas pada remaja muncul karena adanya penghargaan diri yang positif terhadap dirinya yang dapat menumbuhkan keyakinan bahwa apa yang dilakukan itu sangat berharga. Para remaja membutuhkan suatu sikap yang penting untuk dimiliki dalam mengkomunikasikan secara jelas dan tegas atas kebutuhan melalui kemampuan berperilaku asertif. Asertifitas pada remaja muncul karena adanya penghargaan diri yang positif terhadap dirinya yang dapat menumbuhkan keyakinan bahwa apa yang dilakukan itu sangat berharga.</p> <p><strong>Metode</strong> Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan penelitian korelasional. Pegambilan sampel menggunakan teknik Proportionate Startified random sampling. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 5 Kota Jambi. Jumlah subjek dalam penelitian ini sebanyak 105 subjek. Penelitian ini menggunakan skala harga diri dan perilaku asertif. Metode analisis yang digunakan adalah teknik korelasi Pearson’s product moment.</p> <p><strong>Hasil</strong> Penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif signifikan antara harga diri dengan perilaku asertif (rxy = 0,620; p&lt;0,01). Harga diri memberikan sumbangan efektif sebesar 38,4% terhadap perilaku asertif sedangkan 61,6% dipengaruhi oleh faktor lain.</p> <p><strong>Kesimpulan dan Saran</strong> Remaja yang memiliki harga diri positif dapat berperilaku asertif, dimana individu merasa bebas untuk mengungkapkan apa yang ada dipikirannya dengan menyatakannya melalui kata-kata ataupun tindakan, dapat berkomunikasi dengan orang lain dari semua tingkatan, memiliki pandangan yang aktif tentang hidup, dengan cara mengejar apa yang diinginkan.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Harga Diri, Perilaku Asertif, Remaja</p> <p> </p> Rofifah Nabilah, Elvin Rosalina Copyright (c) 2019 Jurnal Psikologi Jambi https://online-journal.unja.ac.id/jpj/article/view/10335 Sat, 01 May 2021 00:00:00 +0700 ADVERSITY QUOTIENT PADA PERAWAT RUMAH DI RUMAH SAKIT DITINJAU DARI FAKTOR DEMOGRAFIS https://online-journal.unja.ac.id/jpj/article/view/10336 <p><strong>Introduction</strong> The role of nurses as health care providers in hospitals which amounted to 40% -60% must provide prime, efficient, effective, and productive services care for patients / communities. Nurses are the largest group of health care providers in hospitals who work on nearly 90% of health care through nursing care and greatly affect patient outcomes. The duties and responsibilities of the nurses are very high in work such as, high job demands, responsible for the safety of patient's life, strict work schedule, heterogeneity of personnel, dependence on work, competitive culture in the hospital, and peer pressure. Given the difficulties, it’s crucial to find out the importance of knowing the adversity quotient of nursesin order to see how far the nurse faces difficulties and job barriers in terms of demographic factors. Objective This study aims to determine the description of adversity quotient based on demographic factors.<br /><strong>Method</strong> This research used quantitative research method with descriptive approach. The sample was taken using non probability sampling technique by purposive sampling The research took place at Mental Hospital of Jambi Province, St.Theresia Hospital and Ahmad Ripin Muaro Jambi Hospital. Subjects in this study were nurses that fulfil the criteria: have work experience in the hospital over&gt;1 year and have nurse educational background. The total number of subjects in this study was 192 subjects. This study used adversity quotient scale as a measuring tool.<br /><strong>Results</strong> The results showed that the level of adversity quotient of 126 nurses (65.6%) in hospital was in the moderate category. There was a relationship ofadversity quotient with age (p = 0,006) and number of dependants (p = 0,046).<br /><strong>Keywords:</strong> Adversity Quotient, employment, nursed.</p> <p>ABSTRAK</p> <p><strong>Pendahuluan</strong> Peran perawat sebagai penyedia layanan kesehatan di rumah sakit yang berjumlah 40% -60% harus memberikan perawatan layanan prima, efisien, efektif, dan produktif bagi pasien masyarakat. Perawat adalah kelompok penyedia layanan kesehatan terbesar di rumah sakit yang menangani hampir 90% perawatan kesehatan melalui perawatan dan sangat mempengaruhi hasil pasien. Tugas dan tanggung jawab perawat sangat tinggi dalam pekerjaan seperti, tuntutan pekerjaan yang tinggi, bertanggung jawab atas keselamatan hidup pasien, jadwal kerja yang ketat, heterogenitas personel, ketergantungan pada pekerjaan, budaya kompetitif di rumah sakit, dan tekanan teman sebaya. Mengingat kesulitannya, penting untuk mengetahui pentingnya mengetahui tingkat kesulitan perawat dalam rangka untuk melihat seberapa jauh perawat menghadapi kesulitan dan hambatan pekerjaan dalam hal faktor demografis. Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk menentukan deskripsi tingkat kesulitan berdasarkan faktor-faktor demografis.</p> <p><strong>Metode Penelitian</strong> ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Sampel diambil dengan menggunakan teknik non probability sampling dengan purposive sampling. Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jambi, Rumah Sakit St.Theresia dan Rumah Sakit Ahmad Ripin Muaro Jambi. Subjek dalam penelitian ini adalah perawat yang memenuhi kriteria: memiliki pengalaman kerja di rumah sakit selama&gt; 1 tahun dan memiliki latar belakang pendidikan perawat. Total jumlah subjek dalam penelitian ini adalah 192 subjek. Penelitian ini menggunakan skala adversity quotient sebagai alat ukur.</p> <p><strong>Hasil</strong> Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat adversity quotient dari 126 perawat (65,6%) di rumah sakit berada dalam kategori sedang. Ada hubungan kecerdasan adversitas dengan usia (p = 0,006) dan jumlah tanggungan (p = 0,046).</p> <p><strong>Kata kunci</strong> Adversity Quotient, pekerjaan, dirawat.</p> Rut Marselia, Maria Estela Karolina Copyright (c) 2019 Jurnal Psikologi Jambi https://online-journal.unja.ac.id/jpj/article/view/10336 Sat, 01 May 2021 00:00:00 +0700 DUKUNGAN SOSIAL DALAM QS. AD-DHUHA DAN QS. AL-INSYIRAH https://online-journal.unja.ac.id/jpj/article/view/10337 <p><strong>Introduction</strong> Al-Quran is a guide to human life, include a balance between physical and mind, worship and self ability, relationships between people, and so on. Regarding guidance in human relations, the Koran has also given us instructions on how to provide social assistance for others who need it. This can be seen in QS. Ad-Dhuha and Al-Insyirah.<br /><strong>Objective</strong> This research supports to see how social support is contained in QS. Ad-Dhuha and Al-Insyirah.<br /><strong>The results</strong> of this research is social support contained in the QS. Ad-Dhuha and Al-Insyirah consist of emotional support, network support, esteem support, instrumental support, and information support. The benefits received by Rasulullah SAW after receiving this support are psychological well being, calm, and the burden becomes lighter. Rasulullah SAW also provides social support to others, especially orphans and beggar, and always give thanks to Allah SWT.<br /><strong>Recomendatian</strong> So, we always believe in Allah SWT, always be grateful for all the support and gifts that He has given and we also always provide social support for others.</p> <p><strong>Keyword</strong>: Social support, QS Ad-Dhuha, QS. AL-Insyirah</p> <p>ABSTRAK</p> <p><strong>Pendahuluan</strong> Al-Quran adalah petunjuk hidup manusia yang meliputi keseimbangan antara lahir dan batin, ibadah dan kemampuan diri, hubungan antar manusia, dan sebagainya. Mengenai petunjuk dalam hubungan antar manusia, Al-Quran juga telah memberikan petunjuk bagi kita mengenai bagaimana memberikan dukungan sosial bagi orang lain yang membutuhkannya. Hal ini antara lain terlihat dalam QS. Ad-Dhuha dan Al-Insyirah.</p> <p><strong>Tujuan</strong> Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana dukungan sosial yang terkandung dalam QS. Ad-Dhuha dan Al-Insyirah.</p> <p><strong>Hasil</strong> Dari hasil penelitian diketahui bahwa dukungan sosial yang terkandung dalam QS. Ad-Dhuha dan Al-Insyirah adalah berupa dukungan emosional (emotional support), dukungan jaringan (network support), dukungan penghargaan (esteem support), dukungan instrumental (tangible aid), dan dukungan informasi (informational support). Manfaat yang dirasakan Rasulullah SAW setelah mendapat dukungan tersebut adalah meningkatnya psychological well being, hatinya menjadi tenang dan lapang, serta bebannya menjadi terasa lebih ringan. Rasulullah SAW juga disuruh untuk memberikan dukungan sosial kepada orang lain, khususnya anak yatim dan orang yang meminta minta, serta senantiasa bersyukur pada Allah SWT.</p> <p><strong>Saran</strong> Gambaran ini juga menjadi tuntunan bagi kita untuk selalu beriman kepada Allah SWT, senantiasa bersyukur atas segala dukungan dan karunia yang telah diberikan-Nya dan hendaknya kita juga senantiasa memberikan dukungan sosial bagi orang lain.</p> <p><strong>Kata Kunci</strong>: Dukungan sosial, QS Ad-Dhuha, QS. AL-Insyirah</p> Rena Kinnara Arlotas Copyright (c) 2019 Jurnal Psikologi Jambi https://online-journal.unja.ac.id/jpj/article/view/10337 Sat, 01 May 2021 00:00:00 +0700 PENGARUH METODE STORYTELLING MENGGUNAKAN MEDIA WAYANG TERHADAP PERILAKU PROSOSIAL PADA ANAK USIA DINI DI TK AISYIYAH III KOTA JAMBI https://online-journal.unja.ac.id/jpj/article/view/10339 <p><strong>Introduction</strong> Prosocial behaviour of early childhood increased at the age of 4-12 years. Prosocial behaviour is important to developed from an early age because very useful for develop social attitude better. In this era, teaching in early chilhood dominated by numeral and characters. In this case, aspect of cognitive get the bigger of stimulation but other aspect like prosocial behaviour less consider. Objective The purpose of this study is to determine whether the method of storytelling using puppets influences prosocial behavior in early childhood.<br /><strong>Method</strong> This study using quantitative quasi experimental design. Technique of sample using purposive sampling. Total of subject are 16 with eksperimen and control grup. This research using checklist form observation. The hypothesis test using descriptive technique and paired sample t-test.<br /><strong>Result</strong> This research shows that there is the significant positive effect between giving storytelling using wayang toward prosocial behaviour of early childhood in eksperimen group. The contribution of sig value (2 tailed) is 0,041 (p&lt;0,05). Based on mean, there is raising prosocial behaviour of early childhood in eksperimen group, the value is 15,13%<br /><strong>Conclusions And Recommendations</strong> Storytelling using wayang have a positive effect toward prosocial behaviour of early childhood. That is because wayang more interesting for children than only read a book. Storytelling routine can make the children to develop another of positive aspects.<br /><strong>Keywords :</strong> storytelling, wayang, prosocial behaviour.</p> <p>ABSTRAK</p> <p><strong>Latar Belakang</strong> Perilaku prososial pada anak usia dini meningkat pada usia 4 sampai 12 tahun. Perilaku prososial penting dikembangkan sejak usia dini karna berguna untuk mendukung pengembangan sikap sosial yang lebih baik di dalam diri dan lingkungan anak. Dewasa ini pengajaran pada anak usia dini lebih didominasi oleh angka dan huruf, dalam hal ini aspek kognitif mendapatkan stimulasi terbesar sedangkan aspek yang lain seperti perilaku prososial kurang diperhatikan. Objektif tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah metode storytelling menggunakan wayang berpengaruh terhadap perilaku prososial pada anak usia dini.</p> <p><strong>Metode</strong> Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan Quasi Eksperimen. Pengambilan sampel menggunakan teknik Purposive Sampling.Jumlah responden penelitian sebanyak 16 responden dengan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Penelitian ini menggunakan form observasi checklist. Uji hipotesis menggunakan teknik paired sample t-test.</p> <p><strong>Hasil</strong> penelitian ini menunjukan terdapat pengaruh positif yang signifikan antara pemberian metode storytelling menggunakan media wayang terhadap perilaku prososial pada anak usia ini pada kelompok eksperimen. Adapun kontribusi nilai sig. (2 tailed) sebesar 0,041 dengan p&lt;0,05. Berdasarkan meanterdapat peningkatan perilaku prososial pada anak usia dini pada kelompok eksperimen sebesar 15,13%.</p> <p><strong>Diskusi</strong> Metode storytelling menggunakan wayang berpengaruh terhadap peningkatan perilaku prososial pada anak usia dini. Hal ini dikarenakan media wayang lebih menarik minat anak dalam mendengarkan cerita dibandingkan hanya dibacakan melalui buku, sehingga pesan yang terkandung dalam cerita mudah disampaikan kepada anak.</p> <p><strong>Kata kunci</strong>: mendongeng, wayang, perilaku prososial</p> Clara Aprilia Carolin, Yun Nina Ekawati Copyright (c) 2019 Jurnal Psikologi Jambi https://online-journal.unja.ac.id/jpj/article/view/10339 Sat, 01 May 2021 00:00:00 +0700