PENGEMBANGAN MUTU PENDIDIKAN DITINJAU DARI SEGI SARANA DAN PRASARANA (SARANA DAN PRASARANA PPLP)

  • Alex Aldha Yudi

Abstract

Akhir-akhir ini kita menyaksikan beberapa anak Indonesia mendapatkan penghargaan medali emas pada Olimpiade Fisika dunia. Ini menunjukkan bahwa mutu pengetahuan siswa Indonesia tidak kalah dengan anak-anak lain di dunia ini. Namun di banyak majalah dan jurnal pendidikan, tetap diungkap bahwa mutu pendidikan di Indonesia adalah rendah, termasuk rangking bawah dibandingkan pendidikan di beberapa Negara di Asia Tenggara, seperti dilaporkan Human Development Index (HDI), pada tahun 2009 angka Indeks pembangunan Manusia (IPM) Indonesia adalah 0,734. Laporan ini dikeluarkan oleh UNDP pada 5 Oktober 2009, Indonesia berada pada peringkat 111 di bawah Fhilipina yang berada dipeiringkat 105. Batasan untuk klasifikasi Negara maju adalah nilai IPM di atas 0.800. Meski laporan HDI bukan hanya mengukur status pendidikan (tetapi juga ekonomi dan kesehatan), namun ia merupakan dokumen rujukan yang valid guna melihat tingkat kemajuan pembangunan pendidikan di suatu negara.

Beberapa anak yang mendapatkan medali emas dalam Olimpiade Fisika itu adalah memang beberapa siswa yang genius, yang sangat pandai. Maka dengan dibantu secara khusus lagi, mereka menjadi sangat brilyan. Mereka dapat mewakili bangsa ini dalam kancah lomba pengetahuan taraf anak. Namun kalau kita lihat secara menyeluruh pendidikan di Indonesia, kita akan melihat bahwa kebanyakan anak tidak seperti mereka termasuk siswa-siswa yang belajar dan berlatih di Pusat-Pusat Pembinaan dan Pelatihan Pelajar di seluruh pelosok tanah air. Mereka yang belajar di Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) ini jauh dari apa yang diharapkan terutama di sektor sarana dan prasarana. Inilah yang menyebabkan secara menyeluruh mutu pendikan kita belum sesuai dengan harapan.

Pemerintah sendiri sebenarnya sudah banyak mengusahakan agar mutu pendidikan sungguh meningkat dan berkembang. Pencantuman anggaran pendidikan 20 persen dari APBN dan APBD dalam UU Sisidiknas, penggunaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), dan segala usaha evaluasi akhir (UN) yang menjadi problematik, dimaksudkan untuk menaikkan mutu pendidikan di Indonesia. Usaha tersebut kiranya ada sedikit kemajuan, hal ini dapat dilihat dari kecenderungan dari angka IPM Indonesia yang terus menerus naik (0.577 pada tahun 1999, 0.697 pada tahun 2005, 0.711 pada tahun 2006, 0.728 pada tahun 2006, 0.726) dan semakin mempersempit ketinggalanya dibanding negara-negara lain, tetapi di tahun 2009, menjadi 0,734 dan Vietnam bergeser ke peringkat 115.

Suatu pendidikan dipandang bermutu meunut Soedijarto diukur dari perannya dalam ikut mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kebudayaan nasional, adalah pendidikan yang berhasil membentuk generasi muda yang cerdas, berkarakter, bermoral, dan berkeperibadian. Untuk itu perlu dirancang suatu system pendidikan yang mampu menciptakan suasana dan proses pembelajaran yang menyenangkan, merangsang, dan menantang peserta didik untuk mengembangkan diri secara optimal sesuai dengan bakat dan kemampuannya inilah pendidikan yang dmokratis menurut Soedijarto. Makanya dinegara maju seperti AS dan Jerman tidak mengenal UN untuk memilih dan memilah.

Kebijakan yang diutamakan adalah membantu peserta didik dapat berkembang secara optimal, yaitu diantaranya: (1) menyediakan fasilitas sekolah yang memungkinkan peserta didik belajar dengan penuh kegembiraan dengan fasilitas olahraga dan ruang ruang bermain yang memadai dan ruang kerja guru; (2) Menyediakan media pembelajaran yang kaya, yang memungkinkan peserta didik terus-menerus belajar dengan membaca buku wajib, buku rujukan, dan buku bacaan (termasuk novel), serta kelengkapan laboratorium dan perpustakaan, yang memungkinkan peserta didik belajar sampai tingkatan menikmati belajar.

Kita masih ingat dalam kurun waktu tahun 1984 sampai dengan 1999 prestasi sepakbola pelajar kita sangat disegani di tingkat Asia. Hal ini menunjukan bahwa tim pelajar kita sering menjuarai tournament tingkat internasional. Sebut saja pemain-pemain yang lahir menjadi pemain nasional diantaranya; Frans Sinatra, Feri Sandria, Kurniawan, Kurnia Sandi Gendut Doni dan Bambang Pamungkas. Namun perhatian terhadap prestasi yang diraih mereka di bidang sepakbola belum seimbang terhadap perhatian prestasi akademik mereka. Siswa PPLP di seluruh Indonesia selain siswa SMP dan SMA Ragunan pada umumnya mereka belajar di sekolah umum. Sementara di Ragunan siswa disekolahkan pada sekolah khusus di Ragunan itu sendiri. Siswa diluar Ragunan harus bekerja eksta keras di samping berlatih pagi sore mereka diwajibkan mengikuti pelajaran di sekolah mereka belajar. Dari pengalaman penulis selaku pelatih selama 11 tahun di PPLP keluhan guru-guru terhadap siswa adalah disiplin mengikuti pelajan yang sangat rendah. Rendahnya disiplin ini disebabkan frekuensi latihan yang diberikan terhadap mereka terlalu sering sampai 11 kali dalam satu minggu. Hal ini menyebabkan mereka menjadi letih sehingga konsentrasi mengikuti pelajaran akan menjadi hilang.

Persoalan pendidikan dasar dan menengah termasuk pendidikan di Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) di Indonesia dewasa ini sangat kompleks. Permasalahan yang besar antara lain menyangkut soal pemerataan pendidikan, manajemen pendidikan, pemenuhan sarana dan prasarana pendidikan dan latihan serta mutu pendidikan.

Persoalan pemerataan pendidikan adalah masih banyaknya anak umur sekolah yang tidak dapat menikmati pendidikan formal di sekolah, sedangkan persoalan manajemen menyangkut segala macam pengaturan pendidikan seperti otonomi pendidikan, birokrasi, dan transparansi agar kualitas dan pemerataan pendidikan dapat terselesaikan dengan baik.

Oleh karena itu, berbicara tentang mutu pendidikan di Indonesia kiranya perlu dilihat beberapa unsur yang mempengaruhinya, seperti: (1) kurikulum, (2) isi pendidikan, (3) proses pembelajaran dan evaluasi, (4) kualitas guru, (5) sarana dan prasarana sekolah, dan (6) buku ajar. Keenam elemen ini saling berkait dalam upaya meningkatkan kualitas belajar-mengajar, yang berpuncak pada peningkatan mutu pendidikan.

Berhubung banyaknya faktor yang mempengaruhi mutu pendidikan seperti yang diuraikan di atas, maka dalam penulisan makalah ini hanya membahas tentang pengembangan mutu pendidikan ditinjau dari sarana dan prasarana pendidikan termasuk sarana dan prasarana Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP).

Downloads

Download data is not yet available.
Published
2013-01-14
How to Cite
Aldha Yudi, A. (2013). PENGEMBANGAN MUTU PENDIDIKAN DITINJAU DARI SEGI SARANA DAN PRASARANA (SARANA DAN PRASARANA PPLP). Cerdas Sifa Pendidikan, 1(1). Retrieved from https://online-journal.unja.ac.id/csp/article/view/702
Section
Articles