INTENDED CHANGE MASYARAKAT PELAKU INTEGRASI TERNAK HULTIKULTURA DALAM PENANGGULANGAN BENCANA ASAP DI LAHAN GAMBUT KECAMATAN KUMPEH ULU

  • Adriani Adriani Universitas Jambi
  • Jul Andayani Universitas Jambi
  • Hamzah Hamzah Universitas Jambi
  • Yunta Gombang Armando Universitas Jambi
  • Sri Novianti Universitas Jambi
Keywords: Lahan Gambut, Kebakaran Lahan, Pupuk

Abstract

Setiap tahun wilayah kumpeh selalu mengalami kebakaran hutan  yang berdapak pada  banyaknya asap yang ditimbulkan,  ditambah lagi  kebiasaan masyarakat dalam pengolah  lahan pertanian dengan membakar   dengan alasan lebih mudah, murah dan sisa pembakaran bisa menjadi pupuk. Namun sebagian besar wilayahnya terdiri atas lahan gambut yang mudah terbakar jika terjadi kemarau dan api sulit dikendalikan. Tentunya ini menjadi masalah sekaligus tantangan untuk bisa merubah pola pengolahan lahan yang selama ini dilakukan kearah yang lebih baik (Intended-Change).  Survei pendahuluan, wawancara dengan masyarakat dan kelompok tani di  Kumpeh Ulu bahwa  kebiasaan masyarakat  sudah turun temurun dilakukan yaitu  membakar lahan 1-3 minggu  dengan cara menunpuk  tanaman semak yang sudah ditebas, kemudian ditutup  tanah dibagian atasnya  dan dibakar sampai semua  sisa tanaman habis. Namun karena lahanya berupa gambut, maka  tanah bagian atas juga merupakan bahan yang siap terbakar. Padahal selama proses pebakaran ini terjadi pencemaran udara karena tingginya kandungan asap, sulit mengendalikan api jika sudah melebar. Potensi yang sangat menunjang dalam proses pengolahan lahan yang ramah lingkungan adalah melakukan pengolahan  limbah kotoran ternak dan limbah tanaman yang ada menjadi pupuk organik. Karena selama ini petani peternak tidak mengetahui pengolahan kotoran ternak menjadi pupuk bahkan kotoran ternak yang ada dibuang begitu saja disekitar kandang yang juga mengakibatkan pencemaran udara dan air. Padahal jumlah ternak yang dimiliki  kedua kelompok tani (sumber rezeki dan karya tani)  tergolong banyak yaitu sapi 37 ekor dan kambing 66 ekor. Potensi kotoran dari ternak ini sekitar 851 kg per hari dalam bentuk basah dari sapi dan sebanyak ± 30 kg per hari dari kambing. Tentunya ini merupakan bahan baku yang bisa dimanfaatkan selain sisa atau limbah  tanaman hultikutura yang ada.   Kegiatan penyluhan dilakukan di rumah ketua kelompok sumber rezeki yang diikuti sebanyak 22 onggota kelompok tani. Materi yang diberikan pada kegiatan penyuluhan ada 3 yaitu karerateristik lahan gambut, proses pembuatan pupuk organik dari kotoran ternak dan hijauan serta materi dampak asap pembakaran terhadap kesehatan. Selain penyuluhan juga ada praktek pembuatan pupuk organik sebanyak 1 ton, dengan menggunakan 600 kg kotoran kambing, 400 kg rumput yang sudah dicacah, ditambah dengan 1 liter EM4, 5 kg dedak padi dan 2,5 kg urea. Semua bahan diaduk rata dan disimpan selama 21 hari dengan cara ditutup tarpal. Hasil evaluasi kegiatan pengabdian bahwa pupuk organik yang dihasilkan memperlihatkan bentuk fifik yang baik yaitu berwarna coklat sampai kehiataman, berbauk tanah dan bertektur gembur.

Downloads

Download data is not yet available.

Author Biographies

Adriani Adriani, Universitas Jambi

Dosen Fakultas Peternakan Universitas Jambi

Jul Andayani, Universitas Jambi

Dosen Fakultas Peternakan Universitas Jambi

Sri Novianti, Universitas Jambi

Dosen Fakultas Peternakan Universitas Jambi

Published
2017-12-15