Analisis Pagelaran Wayang Kulit Ramayana di Desa Sarimulya, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi
DOI:
https://doi.org/10.22437/jcs.v5i1.58030Kata Kunci:
Pagelaran Wayang Kulit, Ramayana, Desa SarimulyaAbstrak
Wayang kulit merupakan seni pertunjukan tradisi. Pertunjukkan tradisi yang memiliki fungsi sebagai hiburan, dan juga berperan sebagai media penyampaian nilai moral dan pendidikan budaya. Salah satu cerita yang sering dipentaskan dalam pertunjukan wayang kulit adalah kisah Ramayana. Sebuah kisah cinta Dewi Sinta dan Sri Rama yang dipisahkan oleh raja Rahwana. Kisah inspiratif yang mengandung makna kesetiaan sejati, oleh karena itu saya mengadakan penelitian yang bertujuan untuk menganalisis seni pertunjukan kisah Ramayana dalam pagelaran wayang kulit di Desa Sarimulya, Kecamatan Jujuhan Ilir, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi dengan informan utama dalang Ki Gondo Sumarno yang memimpin Sanggar Karawitan Wiyogo Sari Budaya. Data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertunjukan wayang kulit di Desa Sarimulya masih dilestarikan melalui kegiatan Sanggar Wiyogo Sari Budaya yang berdiri sejak tahun 1988. Dalang memiliki peran penting dalam menggerakkan jalannya cerita, menyampaikan dialog tokoh, serta mengatur iringan musik karawitan. Cerita Ramayana dipilih karena mengandung nilai moral seperti kesetiaan, tanggung jawab, serta kemenangan kebenaran atas kejahatan. Dengan demikian, pagelaran wayang kulit tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media pendidikan budaya dan moral bagi masyarakat.
Referensi
Anggoro, B. (2018). Wayang dan seni pertunjukan: Kajian sejarah perkembangan seni wayang di Tanah Jawa sebagai seni pertunjukan dan dakwah. JUSPI (Jurnal Sejarah Peradaban Islam), 2(2), 257–268.
Ariputra, P. S. I. (2024). Penanaman nilai pendidikan karakter cerita Ramayana pada materi Pendidikan Agama Hindu di SD Fajar Harapan. Jurnal Penjaminan Mutu, 10(2). https://doi.org/10.25078/jpm.v10i02.4030
Ashforth, B. E. (1996). Procrastination and task avoidance: Theory, research, and treatment.
Astawan, N., & Muada, I. K. (2019). Nilai-nilai pendidikan dalam pertunjukan Wayang Kulit Bali lakon Kunti Yadnya. Jurnal Penelitian Agama Hindu, 3(1), 1–10.
Awalin, F. R. N. (2018). Sejarah perkembangan dan perubahan fungsi wayang dalam masyarakat (History of development and change of wayang functions in society). Jurnal Kebudayaan, 13(1), 77–89.
Brown, S. (2024). The performing arts combined: The triad of music, dance, and narrative. Frontiers in Psychology, 15. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2024.1344354
Cahya, C. (2018). Menyoal tentang daya ekspresi garap pertunjukan seorang dalang dalam upaya membangun komunikasi estetik pada pertunjukan Wayang Golek. Jurnal Budaya Etnika, 2(2), 37–54.
Cohen, M. (2023). Ramayana and animism in "Wayang" puppet theatre. AOQU (Achilles Orlando Quixote Ulysses): Rivista di Epica, 4(1). https://doi.org/10.54103/2724-3346/22208
Fibiona, I., Ariwibowo, G. A., S., Mumfangati, T., Nurwanti, Y. H., & Dwinanto, A. (2024). Heritage in motion: Safeguarding the cultural legacy of Wayang Kulit Kedu, Indonesia. Trames: Journal of the Humanities and Social Sciences, 28(2). https://doi.org/10.3176/tr.2024.2.06
Gedemukti, R. P., Djatiprambudi, D., Martadi, M., & Juwariyah, A. (2026). Semiotics study: Visual analysis of the wayang character Rahwana in the comic by R.A. Kosasih and Ardisoma. Wacana: Jurnal Bahasa, Seni, dan Pengajaran, 10(1). https://doi.org/10.29407/jbsp.v10i1.7
Hariyanto, P. (2023). Representasi sifat manusia dalam tokoh cerita Ramayana. Sirok Bastra, 11(1), 63–76.
Ichsan, Y., Triyana, F., & Fitri, K. (2021). Nilai-nilai pendidikan Islam dalam kesenian wayang. Jurnal Pusaka: Media Kajian dan Pemikiran Islam, 10(1), 1–12.
Irianto, I. S., Saaduddin, S., Susandro, S., & Putra, N. M. (2020). Recombination of Minangkabau traditional arts in Alam Takambang Jadi Batu by Komunitas Seni Nan Tumpah. Ekspresi Seni, 22(1), 85–99.
Kurniawati, A. S. (2018). Sanggar Trajuwening: Posisi dan peran edukatifnya terhadap perkembangan Wayang Jekdong di Kabupaten Gresik. GETER: Jurnal Seni Drama, Tari dan Musik, 1(1), 46–52.
McCrary, J. M., Redding, E., & Altenmüller, E. (2021). Performing arts as a health resource? An umbrella review of the health impacts of music and dance participation. PLoS ONE, 16(5). https://doi.org/10.1371/journal.pone.0252956
Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldana, J. (2014). Qualitative data analysis: A methods sourcebook (3rd ed.). SAGE Publications.
Mitsopoulou, E., Kyprianos, K., & Brattis, P. (2024). Documenting the ephemeral: An ontology for the performing arts. Journal of Information Science. https://doi.org/10.1177/01655515241271052
Nurgiyantoro, B. (2019). Wayang dan pengembangan karakter bangsa. Jurnal Pendidikan Karakter, 10(1).
Pradipa, R., Syafitri, L. N. H., & Nasruddin, M. (2024). Nilai filosofis dalam kesenian Wayang Kulit bagi pembentukan identitas kultural generasi Z muslim Indonesia. Ulumuddin: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman, 14(1). https://doi.org/10.47200/ulumuddin.v14i1.2183
Prasojo, E. N., & Arifin, M. (2022). Manifestasi transformasi nilai-nilai ajaran Islam dalam tokoh Wayang Kulit Pandawa Lima pada cerita Mahabharata. Jurnal Dirosah Islamiyah, 4(2), 304–321.
Prayoga, D. S. (2018, November). Peran dalang dalam seni pertunjukan wayang kulit. Dalam SENADA (Seminar Nasional Manajemen, Desain Dan Aplikasi Bisnis Teknologi) (Vol. 1, pp. 210–217).
Rahmayani, W. N., Gustyawan, T., Handayani, L., & Irianto, I. S. (2025). Regenerasi dan adaptasi sebagai strategi pelestarian Wayang Topeng kelompok Kadaryono di Situbondo, Jawa Timur. Ekspresi, 14(1).
Ristiono, J. (2018). Fungsi gending ayak wolu pada Wayang Kulit Gagrag Jawa Timuran Ki Surwedi. Sorai: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Musik, 11(2).
Rochim, A. I., & Jupriono, D. (2022). Berbagai pilihan nilai moral dalam cerita wayang. TANDA: Jurnal Kajian Budaya, Bahasa dan Sastra, 2(03), 12–26.
Setiawan, E. (2020). Makna nilai filosofi wayang kulit sebagai media dakwah. Jurnal Al-Hikmah, 18(1), 37–56. https://doi.org/10.35719/alhikmah.v18i1.21
Siringo-Ringo, R., Siagian, A., & Wahyuni, N. (2022). The resilient tradition: Exploring the cultural significance of Javanese Wayang Kulit in heritage preservation. Jurnal Ilmu Pendidikan dan Humaniora, 11(1). https://doi.org/10.35335/jiph.v11i1.16
Sugita, I. W., & Pastika, I. G. T. (2022). Fungsi seni pertunjukan Wayang Kulit Bali lakon Bhima Swarga dalam upacara yadnya. Jurnal Penelitian Agama Hindu, 6(2), 139–151.
Sugiyono, S. (2019). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Alfabeta.
Sulanjari, B. (2018). Ideologi dan identitas dalang dalam seleksi dalang profesional Yogyakarta. Jurnal Ikadbudi, 7(1), 181–196.
Yasa, I. M. A. (2022). Nilai-nilai pendidikan agama Hindu dalam pagelaran Wayang Kulit pada Tumpek Wayang. Padma Sari: Jurnal Ilmu Pendidikan, 2(01), 39–50.
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 Putri Lestari, Syeilendra Syeilendra

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.
Jurnal Cerano Seni memberikan akses terbuka terhadap siapapun agar informasi dan temuan pada artikel tersebut bermanfaat bagi semua orang. Semua konten artikel Jurnal ini dapat diakses dan diunduh secara gratis, tanpa dipungut biaya sesuai dengan lisensi Creative Commons yang digunakan.















