Analisis Etnosains Pada Tradisi Tepung Tawar Di Desa Sungai Paduan Sebagai Sumber Belajar Biologi Ethnoscientific Analysis Of The Tepung Tawar Tradition In Sungai Paduan Village As A Biology Learning Resource
Main Article Content
Abstract
Tradisi Tepung Tawar merupakan salah satu bentuk kearifan lokal masyarakat Melayu Kayong Utara yang mengandung nilai religius, sosial, budaya, serta pengetahuan lokal yang berpotensi diintegrasikan dalam pembelajaran biologi berbasis etnosains. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis unsur-unsur etnosains yang terkandung dalam tradisi Tepung Tawar masyarakat Melayu di Desa Sungai Paduan sebagai sumber belajar biologi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi. Penelitian dilaksanakan di Desa Sungai Paduan, Kecamatan Teluk Batang, Kabupaten Kayong Utara, Provinsi Kalimantan Barat. Informan dipilih menggunakan teknik purposive sampling yang meliputi tokoh adat dan masyarakat yang memahami pelaksanaan, makna, serta pemanfaatan bahan-bahan dalam tradisi Tepung Tawar. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam secara daring menggunakan media video call, observasi tidak langsung yang didukung pengalaman observasi lapangan sebelumnya, serta dokumentasi foto dan video. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber, triangulasi teknik, member checking, dan audit trail. Data dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña yang meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Tepung Tawar mengandung berbagai unsur etnosains yang tercermin pada pemanfaatan tumbuhan lokal, bahan-bahan alami, serta pengetahuan masyarakat mengenai fungsi dan makna setiap komponen tradisi. Unsur-unsur tersebut memiliki keterkaitan dengan konsep-konsep biologi, seperti keanekaragaman hayati, struktur dan fungsi tumbuhan, metabolit sekunder, interaksi manusia dengan lingkungan, serta pemanfaatan sumber daya hayati secara berkelanjutan. Dengan demikian, tradisi Tepung Tawar berpotensi menjadi sumber belajar biologi yang kontekstual, berbasis kearifan lokal, dan mendukung implementasi pembelajaran etnosains.
Article Details
Section

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
How to Cite
References
Aikenhead, G. S., & Michell, H. (2011). Bridging cultures: Indigenous and scientific ways of knowing nature. Pearson Canada.
Ardan, A. S. (2016). The development of biology teaching material based on the local wisdom of Timorese to improve students' knowledge and attitude of environment. International Journal of Higher Education, 5(3), 190–200. https://doi.org/10.5430/ijhe.v5n3p190
Atmojo, S. E., & Rusilowati, A. (2018). The implementation of science learning integrated ethnoscience to improve students' critical thinking skills. Jurnal Pendidikan IPA Indonesia, 7(2), 151–157. https://doi.org/10.15294/jpii.v7i2.14273
Creswell, J. W., & Poth, C. N. (2018). Qualitative inquiry and research design: Choosing among five approaches (4th ed.). SAGE Publications.
Hendra, D. F. (2023). Tepuk tepung tawar sebagai simbol ritual budaya Melayu Kabupaten Karimun. Dance and Theatre Review.
Hermawan, J. S., & Rizqi, Y. F. (2025). Penyusunan pendekatan etnopedagogi berbasis e-book untuk meningkatkan literasi budaya dan kewarganegaraan peserta didik di sekolah dasar. Jurnal Pengabdian Masyarakat Ilmu Pendidikan, 4(2), 270–282. https://doi.org/10.23960/jpm-ip.vol.4i.2.1295
Kim, M., & Dionne, L. (2014). Traditional ecological knowledge in science education: A review of research. Cultural Studies of Science Education, 9(2), 385–408. https://doi.org/10.1007/s11422-012-9413-0
Lathifah, I. N., & Wilujeng, I. (2016). Pengembangan perangkat pembelajaran integrated science berbasis kearifan lokal dalam meningkatkan kepedulian lingkungan, keterampilan proses, dan pemahaman konsep sains. Jurnal Pendidikan Matematika dan Sains, 4(2), 120–129.
Lincoln, Y. S., & Guba, E. G. (1985). Naturalistic inquiry. SAGE Publications.
Lubis, S. P. W., Suryadarma, I. G. P., Paidi, & Jatmiko. (2022). Local wisdom-based science learning model in Indonesia (Meta-analysis). Proceedings of the International Seminar on Business, Education and Science.
Maulana, M., Ghozali, A., & Sarifandi, S. (n.d.). Tradisi tepuk tepung tawar dalam budaya Melayu Riau: Sebuah analisis dalam perspektif hadis. Nusantara: Journal for Southeast Asian Islamic Studies, 20(2), 115–127.
McKinley, E., & Stewart, G. (2012). Out of place: Indigenous knowledge in the science curriculum. Science Education, 96(5), 919–933. https://doi.org/10.1002/sce.21024
Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative data analysis: A methods sourcebook (3rd ed.). SAGE Publications.
Pangaribuan, N. (2024). Tradisi tepung tawar: Akulturasi Islam dan budaya Melayu dalam prosesi pernikahan masyarakat Melayu di Kota Tanjung Balai. Tamaddun: Jurnal Kebudayaan dan Sastra Islam, 23(2). https://doi.org/10.19109/tamaddun.v23i2.19694
Parmin, P., & Fibriana, F. (2020). Prospective teachers' scientific literacy through ethnoscience learning integrated with the indigenous knowledge of people in the frontier, outermost, and least developed regions. Jurnal Penelitian dan Pembelajaran IPA, 6(2), 142–154.
Parmin, P., Saregar, A., Deta, U. A., & El Islami, R. A. Z. (2020). Ethnoscience integrated learning to improve scientific literacy and character values. Jurnal Pendidikan IPA Indonesia, 9(1), 1–9. https://doi.org/10.15294/jpii.v9i1.18680
Puspasari, A. (2019). Implementasi etnosains dalam pembelajaran IPA di SD. Science Education Journal, 3(2), 101–110.
Ramadhan, D. (2019). Relevansi kearifan lokal tepung tawar dalam pembelajaran agama Islam (Studi pada masyarakat Melayu Pontianak). Tarbiyah: Jurnal Ilmiah Kependidikan, 8(1), 53–62. https://doi.org/10.18592/tarbiyah.v8i1.2538
Septiani, F. (2024). Integrasi kajian etnopedagogi dalam pendidikan biologi melalui kearifan lokal suku Melayu pada tradisi tepung tawar. Edukasia: Jurnal Pendidikan, 1(2), 61–67.
Septiani, F. (2025). Integrasi kajian etnopedagogi dalam pendidikan biologi melalui kearifan lokal suku Melayu pada tradisi tepung tawar. Edukasia: Jurnal Pendidikan, 1(3), 83–87.
Setiyadi, B., Firman, Aprillitzavivayarti, D., Denmar, D., & Lestari, A. (2025). Menggunakan dan mengkreasikan sumber dan media pembelajaran dengan memanfaatkan lingkungan sekitar sekolah. BERNAS: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat, 6(1), 100–106. https://doi.org/10.31949/jb.v6i1.11002
Suciyati, A., Suryadarma, I. G. P., & Paidi. (2021). Integration of ethnoscience in problem-based learning to improve contextuality and meaning of biology learning. Biosfer: Jurnal Pendidikan Biologi, 14(2), 201–215. https://doi.org/10.21009/biosferjpb.18424
Syahfiah, A. I., Ulfa, C., Sembiring, S. A., Lestari, M., & Isman, M. (2026). Makna simbolik dalam tradisi tepung tawar pada masyarakat Melayu: Analisis semiotika Charles Sanders Peirce. Jurnal Pendidikan Tambusai, 10(2).
Syam, S., & Sujarwo, W. (2024). Penerapan etnopedagogi dalam pembelajaran biologi. SEMBIO: Prosiding Seminar Nasional Biologi dan Pendidikan Biologi, 2, 17–25. https://doi.org/10.59672/sembio.v2.3772
Tinambunan, D. R., Siahaan, R. Y., Nisa, C., Manullang, J. M., Sembiring, T., & Siregar, H. L. (2024). Tradisi tepung tawar sebagai cerminan nilai keagamaan dan sosial pada masyarakat Melayu di Batubara. Jurnal Pendidikan Tambusai, 8(3), 41444–41451.
Widyaningrum, R. (2018). Analisis kebutuhan pengembangan model pembelajaran IPA berbasis kearifan lokal melalui pendekatan etnosains. Widyawacana, 13(2), 11–20.