Electronic Journal Scientific of Environmental Health And Disease https://online-journal.unja.ac.id/e-sehad <p>Eletronic Journal e-SEHAD “Scientific of Environmental Health And Diseases"</p> en-US puiptsehad@unja.ac.id (dr. Wahyu Indah Dewi Aurora) ja@gmail.com (JJ) Tue, 01 Dec 2020 00:00:00 +0700 OJS 3.2.1.1 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 KAJIAN INTERAKSI OBAT BERDASARKAN KATEGORI SIGNIFIKANSI KLINIS TERHADAP POLA PERESEPAN PASIEN RAWAT JALAN DI APOTEK X JAMBI https://online-journal.unja.ac.id/e-sehad/article/view/10759 <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p><em>One of the problem that caused by in patient prescription pattern which can affect the outcome is drug interactions. Drug interactions is a condition that occur when a drug is altered by the effect of other drugs, food or beverages. Drug interaction can cause a reduction of therapeutic, increasing of toxicity or pharmacological activity that is not expected. Based on the level of clinical significance, drug interactions are classified into three : major, moderate and minor. This research was aimed to determine the potency of drug interaction based on clinical significance of the patient’s prescription at the drug store of X Jambi, then to identified the effect and know to treat them well. This was a cohort prospective method with observe and study the prescriptions for a potentially interaction of drugs. Data analyses were descriptive by knowing the potential drug interactions using Medscape applications. 30 prescriptions have potential drug interactions of all 250 prescriptions with 48 interactions of the drug component. The largest percentage 57.44% potential drug interactions followed by minor drug interactions with 36.17% then 6.38% mayor potential interactions. The role of pharmacist is principally about the side effect of drugs and drug interactions when the patients take two or more drugs at the same time. </em></p> <p><strong><em>&nbsp;</em></strong></p> <p><em>Keywords : drug interactions, clinical significance, presciptions, drug store. </em></p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Salah satu masalah yang ditimbulkan dalam pola peresepan pasien yang dapat mempengaruhi <em>outcome</em> klinis pasien adalah interaksi obat. Interaksi obat merupakan interaksi yang dapat terjadi apabila efek obat diubah oleh obat lain, makanan, atau minuman. Dampak yang mungkin terjadi jika terdapat potensi interaksi obat antara lain adalah penurunan efek terapi, peningkatan toksisitas, atau efek farmakologis yang tidak diharapkan. Berdasarkan level signifikansi klinis, interaksi obat diklasifikasikan menjadi tiga yaitu mayor<em>, moderate </em>dan minor<em>. </em>Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi interaksi obat berdasarkan level signifikansi klinis terhadap pola peresepan pasien rawat jalan di Apotek X Jambi, mengetahui dampak yang mungkin terjadi serta mengetahui bagaimana cara penanganannya. Metode penelitian yang digunakan <em>cohort</em> prospektif dengan melakukan pengamatan serta pengkajian terhadap resep yang berpotensi terjadi interaksi obat. Analisa data dilakukan secara deskriptif dengan mengetahui gambaran potensi interaksi obat menggunakan aplikasi <em>Medscape</em>. Total dari 250 resep terdapat 30 resep mengalami interaksi dengan 48 kejadian interaksi. Persentase terbesar ditunjukkan dari potensi interaksi obat yang tergolong dalam kategori <em>moderate </em>sebesar 57,44% diikuti dengan potensi interaksi minor sebesar 36,17% dan mayor sebesar 6,38%. Diperlukannya peran seorang farmasis terutama mengenai efek samping dan interaksi obat yang dapat terjadi ketika pasien menggunakan dua buah obat atau lebih dalam waktu yang bersamaan.</p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Interaksi obat, signifikansi klinis, resep, Apotek.</p> Ovi Amelia Agustin, Fitrianingsih Fitrianingsih Copyright (c) 2020 Electronic Journal Scientific of Environmental Health And Disease https://online-journal.unja.ac.id/e-sehad/article/view/10759 Wed, 17 Mar 2021 00:00:00 +0700 PENGARUH PEMBERIAN BUBUK DAUN PEPAYA CALIFORNIA (CARICA PAPAYA) TERHADAP MORTALITAS JENTIK NYAMUK https://online-journal.unja.ac.id/e-sehad/article/view/10760 <p><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><strong><em>Introduce</em></strong><em> : Diseases that transmitted by mosquitoes have a high risk of mortality and morbidity. The effort to reduce the risk of diseases that transmitted by mosquitoes is by giving larvaside in powder form. Papaya leaves (Carica Papaya) are plants that have the potential for mosquito larvae mortality. </em></p> <p><strong><em>Methods</em></strong><em>: Quantitative research, a type of pre-experimental research with Intac Group Comparasion research design. The research instrument used observation sheets. Purposive sampling was taken with a total of 50 samples grouped into 4 treatment groups with a dose of 60 mg, 150 mg, 300 mg, 500 mg and 1 control group. </em></p> <p><strong><em>Results</em></strong><em>: The lowest larval mortality is at a dose of 60 mg (10%) and the highest mortality at a dose of 500 mg (60%). The results of the analysis in the treatment group are 60 mg, 150 mg and 300 mg obtained p-value&gt; 0.05 so in conclusion there were no significant differences between the treatment groups of papaya leaf powder treatment group at that dose with the control group. The 500 mg group has a p-value of 0.011 &lt;0.05, so it can be concluded that there is a significant difference between the papaya leaf powder treatment group with a concentration of 500 mg of the control group.</em></p> <p><strong><em>Conclusion</em></strong><em>: The addition of papaya leaf powder with a concentration of 500 mg has an positive effect on the mortality of mosquito larvae.</em></p> <p><strong><em>Keywords: </em></strong><em>Powder, Papaya Leaves, Mortality</em></p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p><strong>Latar Belakang </strong>: Penyakit yang ditransmisikan oleh nyamuk memiliki risiko tinggi pada mortalitas dan morbiditas. Adapun upaya untuk mengurangi risiko penyakit yang ditularkan oleh nyamuk ialah dengan pemberian larvasida dalam bentuk bubuk. Daun pepaya (<em>Carica Papaya</em>) merupakan tanaman yang memiliki potensi sebagai larvasida alami.</p> <p><strong>Metode </strong>: Penelitian kuantitatif, jenis penelitian<em> pre-eksperimental</em> dengan desain penelitian <em>Intac Group Comparasion</em>. Instrumen penelitian menggunakan lembar observasi. Pengambilan sampel <em>purposive sampling</em> dengan jumlah 50 sampel yang dikelompokan menjadi 4 kelompok perlakuan dengan dosis 60 mg, 150 mg, 300 mg, 500 mg dan 1 kelompok kontrol.&nbsp;</p> <p><strong>Hasil </strong>: Mortalitas jentik terendah pada dosis 60 mg (10%) dan mortalitas tertinggi pada dosis 500 mg (60%). Hasil analisis pada kelompok perlakuan 60 mg, 150 mg dan 300 mg didapatkan nilai <em>p-value</em> &gt; 0,05 sehingga tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok perlakuan bubuk daun pepaya pada dosis tersebut dengan kelompok kontrol. Kelompok 500 mg&nbsp; memiliki nilai <em>p-value </em>0,011 &lt; 0,05, maka dapat disimpulkan terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok perlakuan bubuk daun pepaya konsentrasi 500 mg dengan kelompok kontrol.</p> <p><strong>Kesimpulan</strong> : Pemberian bubuk daun pepaya dengan konsentrasi 500 mg mempunyai pengaruh terhadap mortalitas jentik nyamuk.</p> <p><strong>Kata kunci </strong>: Bubuk, Daun Pepaya, Mortalitas</p> Rina Mariani, Nurlinawati Nurlinawati Copyright (c) 2020 Electronic Journal Scientific of Environmental Health And Disease https://online-journal.unja.ac.id/e-sehad/article/view/10760 Wed, 17 Mar 2021 00:00:00 +0700 KARAKTERISTIK FAKTOR-FAKTOR RISIKO TERJADINYA KOMPLIKASI KRONIK NEFROPATI DIABETIK DAN ATAU PENYAKIT PEMBULUH DARAH PERIFER PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS DI RSUD RADEN MATTAHER TAHUN 2018 https://online-journal.unja.ac.id/e-sehad/article/view/10761 <h1>ABSTRACT</h1> <p><strong><em>Background : </em></strong><em>Diabetes mellitus is a chronic disease that can cause complications in the form of diabetic nephropathy and peripheral vascular disease. 35-45% of patient with diabetes mellitus suffered microangiopathic complications of diabetic nephropathy and patient with diabetes mellitus are at risk of 29x complications of peripheral vascular disease followed by nerve disorders, neuropathy, infections, wounds or diabetic ulcers.</em></p> <p><strong><em>Method : </em></strong><em>This study used a descriptive method with a cross sectional . Sampling using purposive sampling technique with 65 samples.</em></p> <p><strong><em>Results: </em></strong><em>In this study, the characteristics of respondents obtained the highest sex of women (56.9%). The age of the majority of respondents was 60-64 years (23.1%). The highest duration of diabetes is ≤5 years (64.6%). The most control of blood sugar levels is uncontrolled (75.4%). Most respondents never exercised (40%). Obesity assessed by the most BMI normoweight (43.2%). Most respondents with a history of regular drug consumption (69.2%). The most types of DM drugs are combinations (80%). Most diets are not controlled (56.9%). Chronic complications of diabetic nephropathy (66.2%). Chronic peripheral vascular complications (33.8%)</em></p> <p><strong><em>Conclusion: </em></strong><em>The most risk factors for chronic diabetic nephropathy complications and or peripheral vascular disease was female sex, age 60-64 years, duration of diabetes mellitus ≤5 years, uncontrolled blood sugar level, never exercising, normoweight, regular drug consumption, combination type of drugs, and uncontrolled diet.</em></p> <p><strong><em>Keywords: </em></strong><em>Diabetes Mellitus, Diabetic Nephropathy, Peripheral Vascular Disease.</em></p> <p><em>&nbsp;</em></p> <h1>ABSTRAK</h1> <p><strong>Latar belakang: </strong>Diabetes mellitus merupakan penyakit kronis yang dapat menimbulkan komplikasi berupa nefropati diabetik dan penyakit pembuluh darah perifer. 35-45% penderita diabetes melitus menderita komplikasi mikroangiopati nefropati diabetik dan penderita diabetes melitus berisiko 29x terjadi komplikasi penyakit pembuluh darah perifer yang diikuti gangguan saraf, neuropati, infeksi, luka atau ulkus diabetik.</p> <p><strong>Metode : </strong>Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan <em>cross section</em>. Pengambilan sampel menggunakan tekhnik <em>purpossive sampling </em>dengan 65 sampel.</p> <p><strong>Hasil : </strong>Pada penelitian ini karakteristik responden didapatkan jenis kelamin terbanyak perempuan (56,9%). Usia responden terbanyak 60-64 tahun (23,1%). Lama menderita DM terbanyak ≤5 tahun (64,6%). Pengendalian kadar gula darah tidak terkontrol (75,4%). Responden tidak pernah berolahraga (40%). Obesitas yang dinilai dengan IMT <em>normoweight </em>(43,2%). Responden dengan riwayat konsumsi obat teratur (69,2%). Jenis obat DM terbanyak adalah kombinasi (80%). Pola makan tidak terkontrol (56,9%). Komplikasi kronik nefropati diabetik (66,2%). Komplikasi kronik pembuluh darah perifer (33,8%)</p> <p><strong>Kesimpulan : </strong>Faktor risiko terbanyak pada komplikasi kronik nefropati diabetik dan atau penyakit pembuluh darah perifer adalah jenis kelamin perempuan, usia 60-64 tahun, lama menderita DM ≤5 tahun, pengendalian kadar gula darah tidak terkontrol, tidak pernah berolahraga, <em>normoweight</em>, konsumsi obat teratur, jenis obat kombinasi, dan pola makan tidak terkontrol.</p> <p><strong>Kata kunci </strong>: Diabetes Melitus, Nefropati Diabetik, Penyakit Pembuluh Darah</p> <p>&nbsp;</p> Erny Kusdiyah, M. Jufri Makmur, Rudi Berlian Panji Aras Copyright (c) 2020 Electronic Journal Scientific of Environmental Health And Disease https://online-journal.unja.ac.id/e-sehad/article/view/10761 Wed, 17 Mar 2021 00:00:00 +0700 KEAMANAN MAKANAN DITINJAU DARI ASPEK HIGIENE DAN SANITASI PADA PENJAMAH MAKANAN DI SEKOLAH, WARUNG MAKAN DAN RUMAH SAKIT https://online-journal.unja.ac.id/e-sehad/article/view/10763 <p><strong>A</strong><strong>BSTRACT</strong></p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p>Food is a basic need for humans who live on this earth which is needed at all times. Food requires good and correct management in order to benefit the body. The food consumed should meet the criteria that this food is fit to eat and does not cause disease. How to prepare, clean food handlers and how the food is served is an important part of food management. Diseases caused by food are one of the causes of illness and death in Indonesia.</p> <p>This study is a descriptive one, which is a literature study by examining 7 journals related to food safety in terms of hygiene and sanitation aspects in food handlers.</p> <p>Conclusion: Some of the factors that influence HSM in food handlers are age, education level, level of knowledge.</p> <p>In general, food handlers have never attended a course on food sanitation hygiene, and have never received guidance and supervision from the relevant agencies.</p> <p>Handling behavior 100% do not wash hands with soap when starting work. There is a very significant relationship between the variables of washing hands before working and not washing hands with soap after going to the toilet and the number of germs.</p> <p>Food handlers do not use personal protective equipment such as headgear, work clothes, gloves, aprons and kitchen footwear.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Keywords:</strong> Food sanitation hygiene, food handler behavior</p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>&nbsp;</p> <p>Makanan adalah kebutuhan mendasar bagi manusia yang hidup di muka bumi ini yang dibutuhkan setiap saat. Makanan memerlukan pengelolaan yang baik dan benar agar bermanfaat bagi tubuh. Makanan yang dikonsumsi hendaknya memenuhi kriteria bahwa makanan ini layak untuk dimakan dan tidak menimbulkan penyakit. Cara mengolah, kebersihan penjamah makanan dan bagaimana makanan tersebut disajikan adalah bagian penting dari pengelolaan makanan. Penyakit yang disebabkan oleh makanan&nbsp; merupakan salah satu penyebab kesakitan dan kematian di Indonesia. &nbsp;&nbsp;</p> <p>Kajian&nbsp;&nbsp;&nbsp; ini bersifat deskriptif yang&nbsp;&nbsp; merupakan studi literatur dengan menelaah 7&nbsp; jurnal terkait keamanan makanan ditinjau dari&nbsp; aspek higiene dan sanitasi pada penjamah makanan.</p> <p>Kesimpulan : Beberapa faktor yang mempengaruhi HSM pada penjamah makanan adalah umur tingkat pendidikan, tingkat pengetahuan.</p> <p>Penjamah makanan pada umumnya&nbsp; belum pernah mengikuti kursus tentang higiene sanitasi makanan, dan belum pernah mendapat pembinaan serta pengawasan dari instansi terkait.</p> <p>Perilaku penjamah&nbsp; 100% tidak mencuci tangan dengan sabun saat memulai pekerjaan. Ada hubungan yang sangat signifikan antara variabel mencuci tangan sebelum bekerja dan tidak mencuci tangan dengan sabun setelah dari WC dengan jumlah angka kuman.</p> <p>Penjamah makanan tidak menggunakan alat pelindung diri seperti penutup kepala, pakaian kerja, sarung tangan, celemek, dan alas kaki dapur.</p> <p><em>&nbsp;</em></p> <p><strong><em>Keywords</em> </strong>: Higiene sanitasi makanan, perilaku penjamah makanan</p> Ena Juhaina Copyright (c) 2020 Electronic Journal Scientific of Environmental Health And Disease https://online-journal.unja.ac.id/e-sehad/article/view/10763 Wed, 17 Mar 2021 00:00:00 +0700 EFEK PEMBERIAN BIJI PINANG MUDA (ARECA CATECHU L.) TERHADAP GAMBARAN HISTOPATOLOGIS LIMPA TIKUS PUTIH (RATTUS NORVEGICUS) DEWASA GALUR SPRAGUE DAWLEY https://online-journal.unja.ac.id/e-sehad/article/view/10764 <p><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><strong><em>&nbsp;</em></strong></p> <p><strong><em>Background: </em></strong><em>Areca’s seed is an herbal beverage that are widely consumed as a betel nut. Areca’s seed contains arecoline. High doses of arecoline can damage many organ include spleen. There has been no further histopathological research of the effects with lower doses of betel nut on spleen. </em></p> <p><strong><em>Methods: </em></strong><em>Ten rats Sprague Dawley strain white rats, aged 2-3 months, with 150-200 of grams were divided into 2 groups, namely the control group given aquades and the treatment group given areca nut dose of 50mg/kgBB for 28 days by feeding tube. Histopathologi’s indicators with hematoxilin eosin staining were analyzed by light microscope with 40X for diameter white pulp, 100X for congestion, and 400X for hematopoiesis extrmedullery and necrosis. The assessment for hematopoiesis extramedullery and necrosis used 5 high power-field, congestion used 3 high power field, and changes of diameter whites pulp used 10 high power-field. The data were analyzed by T-Independent statistical test. </em></p> <p><strong><em>Results: </em></strong><em>Average congestion and hematopoiesis extramedullery of treatment group greater than control with p value &lt;0,05. Average necrosis and changes of diameter white pulp of treatment group greater than control group, but there is no significant difference statistically (p value &gt;0,05).</em></p> <p><strong><em>Conclusion: </em></strong><em>Areca’ seed doses 50 mg/KgWB that given for 28 days showed congestion and extra medullary hematopoiesis on&nbsp; rat’s spleen tissue. </em></p> <p><strong><em>&nbsp;</em></strong></p> <p><strong><em>Keywords: Areca catechu L., Betel nut, Toxicity, Spleen, lien, Inflammation, hematopoiesis extramedullery</em></strong><strong><em>.</em></strong></p> <p><strong><em>&nbsp;</em></strong></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p><strong>Latar Belakang: </strong>Pinang muda (<em>Areca catechu L)</em> merupakan tumbuhan herbal yang banyak dikonsumsi sebagai campuran sirih. Pinang mengandung arecoline. Arecoline dosis tinggi dapat menyebabkan kerusakan organ termasuk limpa. Belum ada pengamatan histologis tentang efek pinang dosis rendah pada limpa.</p> <p><strong>Metode: </strong>Sepuluh ekor tikus galur <em>Sprague dawley</em>, usia 2-3 bulan dengan berat 150-200 gram dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok kontrol yang diberikan akuades dan kelompok perlakuan yang diberikan biji pinang dosis 50mg/kgBB selama 28 hari menggunakan sonde. Pengecatan dengan Hematoxylin Eosin. Pengamatan dilakukan dengan mikroskop cahaya perbesaran 40X (diameter pulpa), 100X (kongesti), dan 400X (nekrosis dan hematopoiesis ekstramedular). Indikator hematopoiesis ekstramedular dan nekrosis dibaca dalam 5 lapangan pandang, kongesti 3 lapangan pandang, dan perubahan diameter pulpa alba 10 lapangan pandang. Data dianalisis dengan uji statistik <em>T-Independent</em>.</p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p><strong>Hasil: </strong>Rerata kongesti dan hematopoiesis ekstramedular kelompok perlakuan lebih besar dibandingkan kelompok kontrol, denan nilai p&lt;0,05. Rerata nekrosis jaringan dan perubahan diameter pulpa alba kelompok perlakuan lebih besar dibanding kelompok kontrol, namun tidak terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik (p&gt;0,05).</p> <p><strong>Kesimpulan: </strong>Biji pinang muda dosis 50 mg/KgBB diberikan selama 28 hari dapat menimbulkan kongesti dan hematopoiesis ekstramedular pada jaringan limpa tikus.</p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p><strong>Kata Kunci: <em>Areca catechu L.</em>, Pinang,</strong><br><strong>&nbsp;Toksisitas, Limpa, Lien, Inflamasi, Hematopoesis ekstramedular</strong></p> Adek Adrian, Ave Olivia Rahman, Herlambang Herlambang, Hasna Dewi Copyright (c) 2020 Electronic Journal Scientific of Environmental Health And Disease https://online-journal.unja.ac.id/e-sehad/article/view/10764 Wed, 17 Mar 2021 00:00:00 +0700 PERBANDINGAN EFEKTIFITAS ANTIBAKTERI MENCUCI TANGAN DENGAN ELECTROLYZED OXIDIZED WATER (EOW) DAN DENGAN SABUN ANTISEPTIK https://online-journal.unja.ac.id/e-sehad/article/view/10765 <p><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><strong><em>Background </em></strong><em>: Hands are a moving medium that is able to move microorganisms from one place to another, from sick people to healthy people, from dirty surfaces to clean surfaces. Therefore washing hands as an effort to maintain hand hygiene is one of the most important actions in preventing the transmission of disease-causing microorganisms both in the environment of everyday life and in preventing high rates of patient morbidity and mortality in health facilities such as hospitals, health centers, and other consequences. nosocomial infections or what is known as Health-care Associated Infections (HAIs). The purpose of this research was to compare the effectiveness of washing hands with seven steps using electrolyzed oxidized water (EOW) and antiseptic soap in maintaining hand hygiene.</em></p> <p><strong><em>Methods:</em></strong> <em>This type of research is an analytical study with a pretest-posttest two-group experiment design with random sampling. The research sample was 96 students by swab cotton sticks between their fingers. The cotton swabs were grown in nutrient agar on a petri dish and the colonies count was counted after incubation 16-18 hours in an incubator at 37<sup>o</sup> Celsius. Data analysis will use statistics with a statistical value of p &lt;0.1.</em><strong><em>Results:</em></strong><em> The effectiveness of&nbsp; hands washing with EOW and antiseptic soap can be described as the difference in the number of germ colonies in the seven-step hand washing group with EOW and the difference in the number of germ colonies in the seven-step hand washing group using antiseptic soap. The results of statistical analysis with the Mann Whitney test showed insignificant results p = 0.792. Where the p value &lt;0.1, there is no difference between washing hands with seven steps using EOW with antiseptic soap.</em><strong><em>Conclusion:</em></strong><em> There is no difference in the effectiveness of washing hands using EOW with antiseptic soap</em><strong><em>Key words: hand washing, EOW, antiseptic soap</em></strong></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p><strong>Latar belakang:</strong> Tangan merupakan media bergerak yang mampu memindahkan mikroorganisme dari satu tempat ke tempat lain, dari orang sakit ke orang sehat, dari permukaan yang kotor ke permukaan yang bersih. Oleh karenanya mencuci tangan sebagai usaha menjaga higienitas tangan merupakan salah satu tindakan terpenting dalam mencegah transmisi mikroorganisme penyebab penyakit baik di lingkungan kehidupan sehari-hari maupun dalam mencegah tingginya angka morbiditas dan mortalitas pasien di fasilitas kesehatan seperti rumah sakit, puskesmas, dan lain-lain akibat infeksi nosokomial atau yang dikenal dengan&nbsp; istilah Health-care Assosciated Infections (HAIs). Adapun tujuan dari penellitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan efektivitasan mencuci tangan tujuh langkah dengan menggunakan Electrolyzed Oxidized Water (EOW) maupun sabun antiseptik dalam menjaga kebersihan tangan.</p> <p><strong>Metode:</strong> Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik dengan rancangan penelitian two group pretest-posttest eksperimen dengan tekhnik pengambilan sampel secara random. Sampel penelitian ini sebanyak 96 mahasiswa dengan cara swab kapas lidi pada sela jarinya. Swab kapas ditanam dimedia nutrient agar pada cawan petri dan dihitung jumlah koloninya stelah diinkubasi 16-18 jam pada inkubator denngan suhu 37<sup>o</sup>celsius. Analisis data akan menggunakan statistik dengan nilai p yang dianggap bermakna adalah p&lt;0,1.</p> <p><strong>Hasil :</strong> Efektifitas cuci tangan dengan EOW dan sabun antiseptik dapat di jabarkan sebagai selisih jumlah koloni kuman kelompok cuci tangan tujuh langkah dengn EOW dan selisih jumlah koloni kuman pada kelompok cuci tangan tujuh langkah menggunakan sabun antiseptik. Hasil analisis statistik dengan uji mann whitney, menunjukan hasil yang tidak signifikan p = 0,792. Dimana nilai p&lt;0,1 maka tidak terdapat perbedaan antara mencuci tangan tujuh langkah menggunakan EOW dengan sabun antiseptik.</p> <p>Kesimpulan : tidak ada perbedaan keefektifitassan mencuci tangan menggunakan EOW dengan sabun antiseptik</p> <p><strong>Kata kunci</strong> : cuci tangan, EOW, sabun antiseptik</p> Maria Estela Karolina, fadli fadli, Erny Kusdiyah, Wahyu Indah Dewi Aurora Copyright (c) 2020 Electronic Journal Scientific of Environmental Health And Disease https://online-journal.unja.ac.id/e-sehad/article/view/10765 Wed, 17 Mar 2021 00:00:00 +0700 KONTAMINASI SOIL TRANSMITTED HELMINTHS PADA SAYURAN KUBIS DAN SELADA DI PASAR TRADISIONAL KOTA JAMBI https://online-journal.unja.ac.id/e-sehad/article/view/10766 <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p><em>The transmission of Soil Transmited Helminths (STH) can occur by contaminated food of infective egg. The types of food most often contaminated such as cabbage and lettuce. This study aimed to find the contamination of STH eggs and identified the eggs type which contaminated in the traditional market of Jambi city. This study was a descriptive research which were done at Biomedical Laboratory of the Faculty of Medicine and Health Sciences of the University of Jambi on July-August 2018.&nbsp; Samples taken from three traditional market in the Jambi city that is Talang Banjar, Angso Duo, and Simpang Pulai market. Vegetable samples consisted of 9 cabbage and 9 lettuce from each market.&nbsp; Fifty gram samples were examined by the sedimentation method. There were STH&nbsp; eggs on 16 (29.6%) vegetable samples. &nbsp;The type of STH eggs which contaminated lettuce were Ascaris lumbricoides 6 (37.50%) samples, Ascaris lumbricoides and Trichuris trichiura 3 (18.75%) samples, Hookworm 2 samples (12.50%), and Trichuris trichiura 1 sample (6.25%).&nbsp; The type of&nbsp; STH eggs which contaminated cabbage were Ascaris lumbricoides 2 (12.50%) samples, Trichuris trichiura 1 (6.25%) sample, and Hookworm 1 (6.25%) sample. </em><em>There were STH contamination on cabbage and lattuce in the traditional market in Jambi city<strong>.</strong></em></p> <p><strong><em>Key word:</em></strong> <em>Soil Transmitted Helminths</em>, <em>contamination, infection</em></p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Penularan infeksi <em>Soil Transmited Helminths</em> (STH) dapat terjadi melalui makanan yang terkontaminasi telur cacing. Jenis makanan yang paling sering terkontaminasi diantaranya adalah kubis dan selada. Penelitian ini bertujuan &nbsp;menemukan kontaminasi telur STH dan mengidentifikasi jenis telur cacing yang mengontaminasi sayur kubis dan selada di pasar tradisional Kota Jambi. Penelitian ini adalah penelitian <em>deskriptif </em>yang dilakukan di Laboratorium Biomedik Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi pada bulan Juli–Agustus&nbsp; 2018. Sampel sayuran diambil dari tiga pasar tradisional di Kota Jambi yaitu, pasar Talang Banjar, Angso Duo dan Simpang Pulai. Sampel sayuran terdiri atas 9 kubis dan 9 selada dari setiap pasar.&nbsp; Sebanyak 50 gram sampel diperiksa dengan metode sedimentasi. Hasilnya ditemukan telur STH pada 16 (29,6%) sampel sayuran. Pada sayur selada jenis telur yang mengkontaminasi yaitu <em>Ascaris lumbricoides</em> pada 6 (37,50%) sampel, campuran <em>Ascaris lumbricoides </em>dan<em> Trichuris trichiura</em> pada 3 (18,75%) sampel,&nbsp; cacing tambang pada 2 (12,50%) sampel, dan <em>Trichuris trichiura</em> pada 1 (6,25%) sampel. Sedangkan pada sayur kubis jenis telur yang mengkontaminasi yaitu <em>Ascaris lumbricoides</em> pada 2 (12,50%) sampel, <em>Trichuris trichiura</em> pada 1 (6,25%) sampel, dan Cacing tambang pada 1 (6,25%) sampel. Terdapat kontaminasi STH pada sayur kubis dan selada di pasar tradisional kota Jambi.</p> <p><strong>Kata kunci:</strong> <em>Soil Transmitted Helminths</em>, kontaminasi, infeksi</p> Ulfadiya Putri, Hanina, Amelia Dwi Fitri Copyright (c) 2020 Electronic Journal Scientific of Environmental Health And Disease https://online-journal.unja.ac.id/e-sehad/article/view/10766 Wed, 17 Mar 2021 00:00:00 +0700 ANALISIS INTENSITAS DAN LAMA PAPARAN KEBISINGAN DENGAN PENINGKATAN TEKANAN DARAH PADA KARYAWAN PERUSAHAAN MIGAS X DI JAMBI https://online-journal.unja.ac.id/e-sehad/article/view/10767 <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p><em>Noise is one of the physical hazards that is often found in the work environment, such as machines and tools that can be a source of noise. Noise has various kinds of effects on humans both physically and psychologically. One effect on the physiology is on the heart so that it can increase blood pressure. Using the Cross Sectional Survey method and total sampling in the second and third week of February 2020 with the location in the Oil and Gas Company X in Jambi. Respondents are workers who are in the CPS Area with age ≥ 20 years. The number of respondents was 60 (sixty people). From the results of the study found there were 51.7% with an increase in blood pressure, and 48.3% there was no increase in blood pressure. As many as 53.3% of workers were exposed to more than 85 dBA intensity, 46.7% with intensity ≤ 85 dBA. And as much as 58.3% of workers with a duration of exposure&gt; 8 hours, and 41.7% of workers with a duration of exposure ≤ 8 hours. Chi Square statistical test can explain that there is a relationship between increased blood pressure with noise intensity and there is no significant relationship between duration of exposure with increased blood pressure. Thus it can be planned treatment to deal with the intensity of noise against workers both by optimizing the use of PPE as well as policies in regulating working hours of workers. In subsequent studies to pay more attention to risk factors that can be a confounding variable, and the selection of respondents that is more in line with the research is needed.</em></p> <p><em>&nbsp;</em></p> <p><strong><em>Keywords: </em></strong><em>Noise, exposure duration, intensity, blood pressure</em></p> <p><strong><em>&nbsp;</em></strong></p> <p><strong><em>&nbsp;</em></strong></p> <p><strong><em>ABSTRAK</em></strong></p> <p>Kebisingan merupakan salah satu bahaya fisik yang sering dijumpai dalam lingkungan kerja, seperti mesin yang bisa menjadi sumber kebisingan. Kebisingan mempunyai berbagai macam efek kepada manusia baik secara fisik maupun psikologis.&nbsp;&nbsp; Salah satu efek terhadap fisiologis adalah terhadap jantung yaitu bisa meningkatkan tekanan darah. Dengan menggunakan metoda Survey <em>Cross Sectional </em>&nbsp;dan&nbsp; <em>total sampling</em>, Responden adalah pekerja yang berada di Area CPS dengan usia ≥ 20 tahun. Jumlah responden 60 (enam puluh) orang. Dari hasil penelitian didapatkan terdapat 51,7% dengan peningkatan tekanan darah, dan 48,3% tidak ada peningkatan tekanan darah. Sebanyak 53,3% pekerja terpapar lebih dari dengan intensitas &gt; 85 dBA, 46,7% dengan intensitas ≤ 85 dBA. Serta sebanyak 58,3% pekerja dengan lama paparan &gt; 8 Jam, dan 41,7% pekerja dengan lama paparan ≤ 8 Jam . Uji statistik <em>Chi Square </em>&nbsp;dapat menjelaskan bahwa ada hubungan antara peningkatan tekanan darah dengan intensitas kebisingan dan tidak ada hubungan yang signifikan antara lama paparan dengan peningkatan tekanan darah. Sehingga maka dapat direncanakan&nbsp; penanganan untuk menangani intensitas kebisingan terhadap&nbsp; pekerja baik dengan optimalisasi penggunaan APD maupun kebijakan-kebijakan dalam pengaturan jam kerja pekerja. Pada penelitian selanjutnya untuk lebih memperhatikan faktor-faktor resiko yang bisa menjadi variabel pengganggu, serta diperlukan pemilihan responden yang lebih sesuai dengan penelitian.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>Kata kunci : </em></strong>Kebisingan, lama paparan, intensitas, tekanan darah</p> Mokhamad Zainudin, Putri Sahara Harahap, Eko Mirsiyanto Copyright (c) 2020 Electronic Journal Scientific of Environmental Health And Disease https://online-journal.unja.ac.id/e-sehad/article/view/10767 Wed, 17 Mar 2021 00:00:00 +0700 PEMANFAATN OVITRAP DALAM UPAYA PEMBERANTASAN DEMAM BERDARAH DENGUE DI KECAMATAN PELAYANGAN KOTA JAMBI https://online-journal.unja.ac.id/e-sehad/article/view/12349 <p><strong><em>Abstrac</em></strong><strong><em>t</em></strong></p> <p><em>The incidence of dengue haemorrhagic fever (DHF) is still a public health problem in Indonesia. Observation since the beginning of the discovering of the desease, has show the increase of the diseases incidence every year. The purpose of this study is to know the diversity of aedes’s mosquito in Pelayangan Jambi. The monitoring of aedes’s mosquito that used ovitrap with fermentation process. The results showed that aedes aegypty were found in ovitrap inside the houses. The&nbsp; results of this study could be use as basic information for the communities to improved environment hygiene thtrough reduced mosquito breeding sites, thus degraded the incidence if dengue.</em></p> <p><em>Key word : ovitrap, Aedes sp</em></p> <p><em>&nbsp;</em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Pengamatan sejak awal ditemukannya kasus DBD menyatakan bahwa angka kejadian luar biasa DBD mengalami peningkatan setiap tahun. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan ovitrap dalam memantau keberadaan <em>aedes sp</em> di Kecamatan Pelayangan Kota Jambi. Pemantauan jenis <em>aedes aegypti</em> ini dengan menggunakan ovitrap yang telah di modifikasi dengan proses fermentasi dari gula merah dan ragi yang dapat menarik nyamuk dewasa yang di pasang dalam rumah serta membuniuh nyamuk tersebut. Hasil pengumpulan ovitrap menunjukkan nyamuk <em>aedes aegypti</em> ditemukan pada ovitrap yang di pasang didalam rumah dalam jumlah yang signifikan. Metode ini dapat digunakan sebagai infromasi dasar bagi msayarakat untuk meningkatkan kebersihan lingkungan melalui pengurangan tempat perindukan nyamuk sehingga menurunkan angka kejadian DBD.</p> <p>Kata Kunci : ovitrap, <em>Aedes sp</em></p> Nuriyah Nuriyah, Budi Justitia Copyright (c) 2021 Electronic Journal Scientific of Environmental Health And Disease https://online-journal.unja.ac.id/e-sehad/article/view/12349 Wed, 17 Mar 2021 00:00:00 +0700